Tampilkan postingan dengan label Cina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cina. Tampilkan semua postingan

Keramahtamahan di Beijing

MENUMPANG pesawat Airasia dari Kuala Lumpur, saya tiba di Beijing International Capital Airport pada 3 September 2013 dini hari. Saya datang sendiri, tak ada yang menjemput di bandara.
Karena terlalu dini tiba di Beijing, saya memilih duduk manis di kursi yang tersedia. Di samping saya seorang gadis muda dengan wajah khas Chinese tersenyum. Saya beranikan menyapa. Saya berharap dia salah satu mahasiswa yang kuliah di kampus yang akan saya tuju.
Ternyata dia orang Indonesia yang tur dua minggu bersama keluarganya. Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan nama Ai Ai. Ibu dan kakaknya sedang mencari SIM card untuk menghubungi teman ibunya di Beijing. Ketika mereka kembali Ai Ai memperkenalkan saya pada keluarganya. Keempatnya langsung mengerubungi saya dan berpikir saya sudah lama di Beijing. Begitu saya katakan ini pertama kalinya, si ibu langsung menasihati saya banyak hal. “Jangan lupa makan teratur, hati-hati selama tinggal di negara orang. Kabari ke Indo begitu kamu pakai nomor Cina. Kamu cari orang Indo sampai di kampus,” begitu pesan ibu Ai Ai. Orang-orang Indonesia di sini punya kebiasaan menyingkat kata Indonesia menjadi Indo.
Saat Ai Ai dan keluarganya pergi, saya tak sendiri. Dua orang warga Malaysia mendatangi saya karena berjilbab. Dia tanyakan makanan halal pada saya. Karena tak bisa banyak membantu, saya hanya berikan catatan dengan tulisan Qing zhen cai yang artinya halal.
Sekitar satu jam lebih mereka berputar-putar di bandara cari makanan. Seorang mahasiswa Beijing Foreign Studies University menghampiri saya dengan senyum lebar. Ia baru tiba dari Kazasthan. Ia perlihatkan paspor merah tua dengan kebangsaan Rusia. Di sana tertulis namanya, Artem Tsoy. Saya pikir dia keturunan Cina di Rusia dan pindah ke Kazakhtan karena kebijakan negaranya yang tak menerima orang Asia. Ternyata dia berwarga negara Korea dan lahir di Rusia. Ia cukup ramah, malah tergolong sangat suka bercerita. Ia juga menginformasikan lokasi komunitas orang Indonesia di Beijing.
Semua berjalan baik-baik saja selama berada di dalam bandara. Orang-orang yang saya temui cukup bersahabat. Dua warga Malaysia yang menuntut ilmu di United Kingdom dan berjalan-jalan di Beijing mau menjagai koper selama saya tinggalkan beberapa saat. Beberapa orang juga memberikan informasi tentang kampus yang akan saya tuju. Mahasiswa Rusia malah menawarkan diri mengantar ke kampus saya, tapi saya tolak karena takut. Ia peringatan saya akan ongkos taksi yang harus saya bayar, kemudian apa yang harus saya lakukan setiba di kampus. Sebagai gantinya, ia beri saya secarik kertas berisi langkah-langkah yang harus saya lakukan setiba di kampus.
Begitu pagi mulai terang, saya mulai mencari dan menawar taksi. Tak satu pun sesuai dengan informasi yang saya kumpulkan. Karena takut terlambat mendaftar ulang dan sudah ingin istirahat di asrama, saya terpaksa naik taksi dengan tarif yang sangat mahal. Nyaris 600 ribu dalam rupiah, padahal jaraknya tak begitu jauh.
Orang-orang yang saya tanyai di kampus tak bisa berbahasa Inggris. Bahasa Mandarin mereka tak bisa saya mengerti. Saya mulai tertekan. Saya putuskan tetap menggunakan bahasa Inggris meskipun kacau. Akhirnya lelaki setengah baya asal Pakistan yang sudah lebih dulu kuliah di Communication University of China (CUC) membantu saya ke tempat pendaftaran.
Begitu pendaftaran dibuka, saya cari-cari wajah Indonesia. Berbagai bangsa, berbagai bahasa, semua menyatu dalam bahasa Inggris dan Mandarin. Saya pilih titik aman dengan bahasa Inggris. Jika sudah mentok dan lawan bicara tak paham, baru saya berbahasa Mandarin.
Awalnya saya pikir homesick hanya menyerang setelah beberapa bulan. Ternyata tidak! Baru beberapa jam saja di Beijing saya sudah merindukan segala hal tentang Aceh. Penduduknya yang ramah, berbudaya, dan makanan yang enak-enak. Apa pun yang saya inginkan mudah saya dapatkan meski dengan sedikit perjuangan. Berbeda dengan di Beijing. Fasilitas yang disediakan serbamewah, tapi saya selalu dalam keadaan waswas menggunakannya.
Pada hari ketiga, orientasi dilakukan di aula. Sepanjang perjalanan dari asrama menuju gedung yang berjarak lumayan jauh, saya berkenalan dengan mahasiswa asal Amerika Serikat. Ia mengambil jurusan TV Broadcasting yang banyak diincar oleh mahasiswa asal AS dan Afrika.
Di aula, saya duduk di samping gadis muda bermata sipit. Ia lebih dulu menanyakan nama saya. Ketika saya sebut nama, dia langsung berteriak girang dan menebak saya dari Indonesia. Benar kata orang, jika sudah bertemu dengan warga sebangsa, bahasa ibu menjadi pilihan. Sampai hari ini hanya dia dan seorang gadis 17 tahun yang saya ketahui berasal dari Indonesia. Dalam satu minggu saja saya akui bahwa bahasa Inggris penting, tapi bahasa lokal jauh lebih penting ke mana pun kaki melangkah. Selama bahasa masih ada di permukaan bumi, tetap saja bahasa lokal harus dikuasai walau sedikit. 
[email penulis: peacesmile05@yahoo.co.id]

Buku di Cina

BAGI pecinta buku, harga mahal atau murah suatu buku bukanlah halangan untuk tetap membaca. Jika harganya terlalu mahal, tentu jumlah buku yang akan dibeli bakal dibatasi. Lalu bagaimana bila kita sedang berada di sebuah kota yang harga bukunya lebih murah dari harga seporsi makan siang? Bukankah mungkin saja kita akan lupa diri ketika membuka dompet untuk membeli buku?
Begitu jugalah di Beijing. Harga buku lebih murah daripada harga seporsi nasi yang menunya sangat sederhana. Seporsi nasi goreng telur ayam di kantin muslim paling murah 10 yuan, setara dengan 20 ribu rupiah kurs saat ini. Sementara, buku tebal dalam bahasa Inggris yang di Indonesia bisa menyita jatah makan seminggu, di Cina bisa dijual setengah dari porsi nasi goreng.
Saya sempat terkaget-kaget ketika mendengar laoban (bos atau penjual) di Beijing menyebut angka sangat minim tersebut. Awalnya saya iseng melihat-melihat buku-buku yang dipajang di tepi jalan. Teman saya menyarankan untuk membeli buku pelajaran anak SD untuk meningkatkan kemampuan bahasa Mandarin saya.
Saya buka-buka saja tanpa semangat. Buku tersebut tidak terlalu tebal, tapi tidak bisa dikatakan tipis. Di sana tertulis 2 yuan. Kurang yakin, saya pun bertanya kepada laoban. “Laoban, duo shuo qian? (Berapa harganya?)”
Si laoban menjawab, “Dua yuan.” Akhirnya, saya membeli tiga buku untuk belajar di asrama. Ketika saya berikan 10 yuan, ia tidak mengembalikan 4 yuan, melainkan 5 yuan. Ia mengatakan, kalau ia memberi diskon dan bonus karena menjelang festival musim gugur.
Itu bukan kali pertama saya dibuat kaget oleh penjual buku. Saat pulang dari supermarket di luar kampus pun pernah saya masuk ke salah satu toko buku. Sebagian besar buku yang dipajang berbahasa Mandarin dan saya tak berminat menyentuhnya sekarang ini. Jika ada yang menyajikan dua bahasa (Inggris-Mandarin) saya putuskan untuk membeli satu.
Saat melihat-lihat, ada novel yang bagus tampilan dan judulnya. Berkisah tentang kejadian tragis ketika Natal. Isinya berupa cerita-cerita mini yang kosakatanya pun mudah dipahami. Teman saya membeli satu. Katanya dia ingin meningkatkan bahasa Inggrisnya pula.
Saat dia bertanya berapa harga buku tersebut, saya kaget. Hanya 5 yuan. Saya pastikan lagi, 5 yuan atau 50 yuan. Dia mengangkat tangan dan menunjukkan angka lima di hadapan saya.
Benar. Hanya 5 yuan. Jika dikalikan dua ribu, buku sebagus itu berarti hanya 10 ribu. Di Indonesia, semurah-murahnya buku tidak kurang dari 25 ribu per buku. Itu pun karya penulis yang tak punya nama dan biasa saja kualitas kertasnya. Bahkan buku Harry Potter versi bahasa Inggris satu set lengkap (8 buku) harganya cuma 125 yuan atau seharga 250.000 rupiah saja. Sementara di Indonesia saya membeli buku Potter kedelapan justru lebih mahal dari 1 set buku di Beijing.
Pantas saja ketika berada di subway sering kali saya lihat anak muda membaca buku sambil menikmati perjalanannya. Di taman kampus, di bank, dan beberapa tempat umum ketika memiliki sedikit waktu luang, pasti banyak orang, terutama anak muda yang membaca buku.
Pemandangan yang berbeda sekali dengan di Indonesia, bahkan di Aceh, daerah yang salah satu keistimewaannya justru di bidang pendidikan. 
[email penulis: peacesmile05@yahoo.co.id]

Inti Kemerdekaan Cina adalah Mutu Pendidikan

DI sepanjang Jalan Laufushan, ketika saya baru turun dari angkutan umum dan berbaur kembali dengan penumpang yang berjalan ke tempat berikutnya, saya tak melihat bendera-bendera Republic of China dipasang di penjuru jalan protokol Kota Nanchang itu. Bendera hanya dikibarkan di beberapa tempat saja, paling-paling di gedung-gedung pemerintahan.
Hari itu, awal Oktober 2013, rakyat Cina merayakan 64 tahun kemerdekaannya. Penyambutan hari kemerdekaan di Cina, seolah-olah memberi saya pertanda bahwa simbolitas bendera bukanlah makna kemerdekaan seutuhnya.
“Di negara kita, seminggu sebelum dan sesudah penyambutan hari kemerdekaan, bendera Merah Putih masih berkibar sesuai dengan instruksi pemerintah,” ujar kawan saya dari Makassar.
Angin bertiup kencang di lapangan tugu monumen Bayi Square. Selembar bendera Cina berukuran besar di tiang melikuk-likuk diempas angin. Saya tidak melihat ada orang berseragam militer yang memberikan pengamanan di tugu monumen itu. Hanya beberapa orang polisi tanpa senjata mondar-mandir di areal Bayi Square.
Dalam bahasa Cina tugu ini dinamakan NĂ¡nchang Bayi Guangchang. Ia bercerita tentang sejarah lahirnya tentara Cina dan revolusi kebudayaan. Di dinding-dinding tugunya terdapat ukiran yang menggambarkan semangat para tentara Cina memperjuangkan kemerdekaan negaranya. Ada sebagian pengunjung berfoto ria di depan tugu itu.
Pernah suatu ketika, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing, Chaerun Anwar, berkunjung ke Nanchang University. Ia mengatakan, Indonesia lebih awal mendapatkan kemerdekaan dari Cina dan kunci keberhasilan negara Cina salah satunya adalah program pendidikan.
Chaerun Anwar bercerita, pada 5 Mei 1998 Pemerintahan Cina meningkatkan program mutu pendidikan dengan cara subsidi pendidikan dan pemerataan prasarana dan sarana pendidikan di suluruh Cina. Mereka beranggapan, pendidikan adalah investasi masa depan untuk kemajuan Cina dan terbukti ada 37 universitas di Cina masuk dalam jajaran 100 top universitas terkemuka di dunia.
Nanchang University tempat saya melanjutkan studi saat ini, walaupun tak masuk dalam 100 top universitas di dunia, tapi prasarana dan sarananya cukup mendukung mahasiswa-mahasiswi dalam pengembangan studi dan praktikum. Bayangkan saja, luas Kampus Nanchang University lebih kurang 500 hektare, sedangkan luas Kopelma Darussalam, Banda Aceh, hanya 162 hektare.
Dalam Pasal 11 ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselengaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.
Saya sempat berpikir, jika Pemerintah Indonesia menjalankan kewajiban ini sesuai dengan amanah undang-undang, maka dunia pendidikan kita akan maju seperti halnya Cina. Selain itu, jika sentrum pendidikan kita di Indonesia tidak berpusat di Pulau Jawa dengan program pemerataan mutu pendidikan seperti yang dilakukan Pemerintah Cina, maka tentu saja universitas-universitas di provinsi lain di Indonesia akan menjadi kebanggaan calon mahasiswa nasional atau mahasiswa internasional.
Saya bercerita pada teman asal Makassar bahwa di Aceh semasa konflik dulu, sebulan sebelum dan sesudah perayaan hari kemerdekaan, bendera Merah Putih tetap wajib dikibarkan di rumah-rumah. Selain itu, saya telanjur memaknai di negara kita bahwa kemerdekaan adalah simbolitas bendera semata plus kumandang lagu Indonesia Raya yang disudahi dengan lomba panjat pinang. Setelah itu selesai. Rutinitas yang demikian terulang lagi pada tahun berikutnya. 
[email penulis: pri_zal@yahoo.co.id]

Restoran Halal di Shanghai

KESEMPATAN untuk hadir dalam seminar internasional bidang lingkungan hidup dirangkai dengan tur wisata yang difasilitasi oleh panitia ke Kota Shanghai, tentu tidak saya sia-siakan. Jumat lalu, saat tiba di kota ini, saya langsung mengaguminya.
Bayangan bahwa kota ini seperti kebanyakan film-film Cina yang divisualkan banyak rumahnya yang bergaya kuno dan klasik, ternyata keliru. Shanghai justru merupakan kota termaju di Cina, diikuti Beijing sebagai pusat ibu kota negara. 
Ada banyak gedung pencakar langit, jalan tol, serta jalan-jalan layang di Shanghai yang akan membuat kita berdecak kagum. Tak hanya itu, fasilitas transportasi yang nyaman dan modern pun bisa menjadi pilihan di kota yang mendapat julukan metropolis ini.
Kota berpendududuk ramah, barangkali julukan yang tepat disematkan terhadap kota terpadat di Cina ini. Dari beberapa pengalaman yang saya alami, mereka senang dan ingin sekali dapat membantu orang yang sedang kesulitan, terutama mereka yang menguasai hanya sedikit bahasa Inggris. Saat pertama tiba di bandara, saya benar-benar kesulitan untuk menghubungi kawan di Shanghai. Maklum saja, hampir semua keterangan fasilitas umum di kota ini ditulis dalam bahasa Mandarin. Namun, dengan senang hati mereka menawari saya telepon genggam untuk berkomunikasi.
Masih di stasiun kereta api, saat ribuan orang berlalu lalang, pertanyaan di mana saya harus beli tiket, di mana saya harus naik kereta dan sebagainya, muncul seiring munculnya kepanikan di benak saya. Tapi untungnya lagi, masih ada saja warga Shanghai yang membantu dan mengarahkan saya hingga naik mulus ke atas kereta. Tampaknya, pendidikan dan keterbukaan, sedikit banyaknya telah mengubah budaya tertutup masyarakat di salah satu provinsi yang negaranya dikuasai partai komunis ini.   
Tiba di tempat yang dituju, kedatangan saya telah ditunggu oleh Zakaria, staf pengajar Jurusan Fisika Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang sedang mengambil program magister di Kota Shanghai. Sebagai seorang muslim, hal pertama yang saya pikirkan adalah masjid dan tentu saja rumah makan berlabel halal. Untuk itu, Zakaria mengajak saya berkunjung ke salah satu restoran muslim yang ada di sekitar Universitas Tongji.
Ternyata untuk memukan restoran muslim di Shanghai ini tidaklah begitu sulit. Menurut Zakaria, ada banyak restoran muslim di Shanghai. Penjelasannya ini tentu sangat kontras dengan apa yang saya pikirkan sebelum datang ke kota mode ini.
Sejauh yang saya amati, pernyataan Zakaria itu tak berlebihan. Memang banyak restoran muslim di sini. Bahkan hampir di setiap universitas yang ada di Shanghai terdapat kantin yang disediakan khusus untuk mahasiswa muslim.
Umumnya, restoran muslim yang ada di kota ini dikenal dengan nama Lanzho Lamin. Lanzho merupakan nama sebuah provinsi di Cina, sedangkan lamin artinya mi yang dibuat dengan tangan. Dengan demikian, Lanzho Lamin berarti “mi yang berasal dari Lanzho dan buatan tangan”.
Meski semua restoran muslim bertuliskan bahasa Cina, namun bagi muslim luar yang datang dapat dengan mudah mengenali ciri-ciri restoran tersebut. Umumnya, para pelayan memakai kopiah haji warna putih, papan tanda pengenal berwarna hijau, dan label halal yang jelas terpampang.
Kebanyakan para pemilik restoran muslim di sana berasal dari tiga kota/provinsi di Negeri Tirai Bambu ini, yakni Lanzho, Qinghai, dan Xinjiang. Di tiga provinsi ini terdapat banyak penduduk beragama Islam. Di Shanghai juga terdapat tujuh masjid yang biasanya digunakan sebagai tempat shalat lima waktu, Jumat, dan hari raya.
Salah satu masjid yang saya kunjungi bernama ‘Fuyoulou’, terletak di Yuyuan Garden, pusat kota serta salah satu kawasan perbelanjaan terkenal di Kota Shanghai.
Menurut sejarahnya, masjid ini dibangun pada tahun 1870 atas bantuan masyarakat muslim di Nanjing dan sudah mengalami tiga kali perbaikan. Masjid ini hampir setiap tahunnya dikunjungi oleh empat puluhan ribu masyarakat muslim baik dalam maupun luar. Sungguh pengalaman yang menarik dapat berkunjung ke Shanghai. 
[email penulis: ssyahreza@yahoo.co.id]

Masjid Tertua Cina

SAYA beruntung mendapatkan kesempatan mengikuti workshop keanekaragaman hayati yang diprakarsai United Nation Environmental Development (UNEP), badan resmi PBB untuk urusan lingkungan hidup. Workshop kali ini dilaksanakan di Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, Cina, sejak 9-13 Desember 2013.
Kehadiran saya ke forum ini atas rekomendasi M Adli Abdullah, Direktur Pusat Studi Hukum Adat Laot dan Kebijakan Perikanan (Pushal-KP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), setelah adanya permintaan dari UNEP melalui International Collective Support of Fishworkers (ICSF) yang bermarkas di India.
Saya datang dua hari lebih awal sebelum acara dimulai pada 9 Desember 2013. Kesempatan ini saya gunakan semaksimal mungkin untuk mengunjungi beberapa situs bersejarah di Guangzhou yang memang dikenal banyak menyimpan sejarah. Salah satu yang saya kunjungi ialah Masjid Huaisheng. Informasi tentang masjid ini saya peroleh melalui internet saat transit di Kuala Lumpur, Malaysia.
Masjid ini memiliki beberapa nama, seperti Masjid Raya Canton, Masjid Guangta Si, Masjid Hwai Sun Su, dan Masjid Yin Ming. Malah kalau melihat dari gambar yang ditempel di gedung sebelah kanan masjid ada juga tulisan Mosque Mohammadan (Masjid Muhammad/Masjid Nabi Muhammad). Tapi sesungguhnya masjid ini lebih dikenal sebagai Masjid Huaisheng.
Masjid Huaisheng diyakini sebagai masjid tertua di Cina. Menurut naskah muslim Cina kuno, masjid ini dibangun oleh Sa’ad ibn Abi Waqqas, paman Nabi Muhammad yang diperkirakan datang untuk menyebarkan Islam pada tahun 650 M di Cina. Masjid ini sangat indah, atapnya berciri khas Masjid Chengho di Surabaya atau berbentuk Masjid Cina di Rantau Panjang, Kelantan, Malaysia yang bentuknya seperti kelenteng Cina. Masjid Huaisheng terletak di Jalan Guang Ta Lu, Koya Guangzhou, Provinsi Guangdong.
Bagaimanapun untuk mencapai masjid ini tidaklah mudah. Ada sekitar tujuh taksi yang ingin saya tumpangi. Tapi tidak ada satu pun dari sopirnya yang mengetahui lokasi masjid itu, meskipun saya suah beberapa kali mengulang nama dan menunjukkan kertas yang bertuliskan Masjid Huaisheng sekaligus beberapa foto masjid.
Dalam keadaan galau akhirnya saya diberi tahu oleh salah seorang sopir untuk menuliskan nama masjid dalam huruf Cina. Saya coba datangi sebuah hotel yang tak begitu jauh dari tempat saya menyetop taksi. Saya yakin si resepsionis mengetahui bahasa Inggris dan dapat menerjemahkan nama masjid ke dalam tulisan Cina. Atas bantuan resepsionis itulah kemudian saya kembali menyetop taksi dan  kemudian saya tunjukkan tujuan saya dalam tulisan Cina yang telah ditulis resepsionis. Betul, ternyata sopir taksi mengetahui tempat itu dan mengantar saya ke sana.
Saya tiba di Masjid Huaisheng pukul 11.45, saat pintu masjid belum dibuka. Saya bertemu dengan seseorang berkopiah putih (mungkin saja dia khadam masjid) dan kemudian saya ucapkan salam. Ada beberapa pemuda yang mengaku mahasiswa sedang melihat-lihat masjid itu dari luar. Mereka tenyata bukan muslim dan seperti sangat asing saat menyaksikan masjid.
Setelah saya ucapkan assalamu’alaikum kepada khadam yang ketika itu sedang duduk di bangku panjang sebelah kiri pintu masjid. Saya perkenalkan diri bahwa saya muslim dan berasal dari Indonesia. Tapi sayangnya dia tak tahu Indonesia. Selanjutnya saya katakan kalau saya dari Malaysia sedangkan Indonesia dekat dengan Malaysia. Dia bilang, “Yes, I know Malaysia, but I don’t know Indonesia.”
Selanjutnya saya katakan ingin shalat. Dengan ramah, dia tunjukkan tempat wudhuk dan pada waktu yang sama dia bukakan pintu masjid untuk saya. Bergegas saya letakkan tas saya di dalam masjid, baru kemudian berwudhuk di tempat yang dia tunjuk.

Setelah shalat sunat tahayatul masjid dua rakaat, saya pun menunggu masuknya waktu Zuhur pada pukul 12.31 waktu Cina. Kesempatan yang baik itu saya pergunakan untuk terus shalat jamak qashar. Alhamdulillah, ternyata di negara komunis yang minoritas beragama Islam masih ada rumah Allah yang dipelihara dan dijaga dengan baik hingga saat ini. Dan, semoga sepanjang masa. [email penulis: t_muttaqien@yahoo.com]

Keanekaragaman Hayati di Kota Guangzhou

UNITED Nation Environmental Development (UNEP), badan resmi PBB untuk urusan lingkungan hidup, menggelar Workshop Keanekaragaman Hayati di Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, Cina, sejak 9-13 Desember 2013. Saya ikut sebagai salah satu narasumber dalam forum ini, mewakili Pusat Studi Hukum Adat Laot dan Kebijakan Perikanan (Pushal-KP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
Adalah UNEP melalui International Collective Support of Fishworkers (ICSF) bermarkas di India yang mengundang Pushal-KP Unsyiah untuk ikut dalam ajang bergengsi ini.
Ada dua tujuan utama yang dibicarakan oleh lebih dari 60 peserta dari berbagai negara di Asia, perwakilan PBB, NGO, dan perwakilan universitas dalam workshop ini. Pertama, mengenai sustainable (keberlanjutan). Kedua, tentang marine protected areas (MPAs).
Kedua tujuan di atas berkaitan dengan isu biodiversity marine and coastal areas (keanekaragaman hayati kawasan laut dan pesisir). Isu ini merupakan implementasi dari Convention Biological Diversity (CBD).
Banyak sekali pembicara yang diundang dalam workshop. Antara lain yang duduk satu meja dengan grup saya adalah Piers Dunstan, peneliti dari Hobart, Australia. Di meja yang lain ada Prof Dr John Kurien mewakili ICSF. Namun, yang menjadi perhatian dalam workshop ini, antara lain, berkaitan dengan traditional knowledge (pengetahuan tradisional) dan bagaimana bekerja bersama membangun dan melestarikan keanekaragaman hayati pesisir dan laut di kawasan Asia.
John Kurien yang pernah bekerja di UN-FAO Aceh selama empat tahun pada hari kedua diberi kesempatan presentasi dengan judul Ecosystem Approaches to Fisheries and Local Implementation. Yang menarik ialah, dari sekian tempat ia bekerja di dunia, John Kurien memilih dua sampel lokasi sebagai contoh, yaitu India dan Aceh, kawasan barat Indonesia.
Pada hari yang sama, saya sendiri dan semua perwakilan negara dan perwakilan organisasi yang diundang dijadwalkan melakukan presentasi setelah makan malam. Saya atas nama Pusat Studi Hukum Adat Laot dan Kebijakan Perikanan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) tampil dengan presentasi berjudul “The Implementation of Traditional Concept for Sustainably Marine and Coastal Areas”, pelaksanaan konsep tradisional dalam menjaga keberlanjutan area pesisir dan laut.
Materi yang saya presentasikan ialah berkaitan dengan praktik di lima wilayah ko-manajemen perikanan pada empat kabupaten di Aceh, yaitu  Kabupaten Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, dan Nagan Raya. Konsep ini ternyata telah berkembang di banyak negara Asia dengan nama atau istilah yang sedikit berbeda.
Pada bagian lain saya paparkan bagaimana Aceh sebagai salah satu contoh telah menjaga wilayah pesisir dan keberlanjutan laut sejak 400 tahun lalu. Caranya ialah dengan melaksanakan taboo days (uroe pantang laot). Yang apabila diakumulasikan, dalam setahun terdapat 59 hari nelayan di Aceh tidak melaut. Filosofinya ialah nelayan Aceh telah sadar sejak dulu bagaimana mereka mampu menjaga perkembangbiakan ikan, pertumbuhan karang, alga, dan keanekaragaman hayati pesisir dan laut Aceh sejak lama, sementara di dunia lain, terutama kawasan Asia, baru membicarakannya.

Konsep ini disambut hangat oleh para peserta, bahkan John Kurien memberi apresiasi untuk penampilan pertama saya di forum ini. Sementara perwakilan UN-FAO, perwakilan dari Bangladesh mendekati saya pada hari berikutnya dan mengatakan presentasi saya itu menarik. Workshop ini telah berakhir hari Jumat sore, 13 Desember 2013 di mana saat itu cuaca dilaporkan pada posisi 15 derajat Celcius.  Wasalam. [email penulis: t_muttaqien@yahoo.com]

Tipu Daya Bandara Guangdong

MUMPUNG masih di Cina, saya sempatkan lagi menulis laporan untuk para pembaca di Aceh. Mudah-mudahan coretan ini berguna bagi orang Aceh yang akan pergi ke Cina.
Kota Guangzhou, tempat saya ikut seminar tentang perikanan dan kelautan internasional selama seminggu, dikenal sebagai kota bersejarah di Cina. Terutama karena penduduk di kota ini terlibat dalam kebangkitan Kanton pada tahun 1911 yang mengarah pada Revolusi Cina menentang Dinasti Manchu.
Makanya di sini tidak hanya bahasa Cina yang dikenal, tetapi juga bahasa kantonis. Bahasa kantonis mempunyai dialek yang berbeda dengan bahasa Cina pada umumnya.
Menurut beberapa warga di sini, selain di Guangzhou, bahasa kantonis juga dominan di Hong Kong. Bahkan pemain film Hong Kong terkenal seperti Jackie Chan, Jet Lie, dan beberapa pemain film Hong Kong lainnya ternyata juga menggunakan bahasa kantonis ketika melakoni film mereka.
Dalam kesehariannya, penduduk Kota Guangzhou, baik laki-laki maupun perempuan, kebiasaannya memakai jaket tebal dan sepatu. Alasan mereka tak lain adalah untuk mengusir cuaca dingin. Kota ini terletak di tepi utara Sungai Zhujiang. Sungai ini telah disulap menjadi salah satu pusat wisata terbaik. Di kiri-kanannya terdapat gedung-gedung tinggi dan melewati lima jembatan besar Guangzhou dengan lampu warna-warni pada malam hari.
Di samping itu tentu saja Masjid Huaisheng yang dibangun oleh paman Nabi Muhammad Saad ibn Abi Waqqas pada tahun 650 Masehi dan dianggap sebagai masjid tertua di Cina. Kesemuanya menambah pesona kota bersejarah ini.
Namun, bagi yang baru pertama kali datang ke sini, perlu berhati-hati, terutama di Baiyun International Airport (Bandara Provinsi Guangdong). Soalnya, beberapa orang di sini tidak segan-segan memeras kantong kita dengan dalih ingin membantu. Hal ini saya alami dan ternyata dialami juga oleh beberapa teman dari negara lain yang baru pertama kali ke sini.
Setelah lolos dari pemeriksaan imigrasi, saya langsung diarahkan ke luar ruangan bandara. Begitu ke luar, sudah ada orang yang mengaku sopir taksi hendak menawarkan taksinya. Ya, sama seperti di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh-lah. Hanya saja dia minta harga 3 kali lipat dari harga sebenarnya. Seharusnya saya membayar hanya lebih kurang 100 yuan, namun dia menawarkan harga 350 yuan sekali jalan menuju Kota Guangzhou (waktu tempuhnya sekitar 50 menit).
Dengan alasan akan menelepon teman di Cina, saya coba menghindar, lalu akhirnya dia minta 200 yuan. Saat itu saya belum mau seharga itu, karena menurut saya itu pun masih terlalu tinggi. Saya juga telah mendapatkan gambaran harga awal dari panitia workshop bahwa harga taksi dari bandara ke Kota Guangzhou berkisar antara 75-100 yuan. Selanjutnya saya dekati konter taksi resmi di bandara itu dan menanyakan berapa tarif normal ke Guangzhou. Saya tambah terkejut karena mereka meminta hingga 380 yuan, bahkan sambil menunjukkan rate harga tersebut di buku mereka.
Ketika saya menjauh dari konter, datang seseorang berseragam jas yang saya yakin kalau bukan sebagai pamtup (pengaman tertutup), setidaknya dia adalah petugas bandara.
Singkat cerita, dia juga minta ongkos 250 yuan. Namun, setelah saya tawar, dia minta 200 yuan. Saya setuju karena saya anggap sudah ada perbandingan, karena setara dengan tarif yang diminta oleh sopir taksi pertama, apalagi kali ini dia orang berseragam.
Setelah saya diantar ke taksi dan saya berikan uang 200 yuan, dia minta sopir taksi ke luar dengan bahasa Cina dan selanjutnya kepada sopir taksi dia serahkan uang yang tadinya saya berikan ke dia. Namun ternyata, yang dia berikan kepada sopir taksi hanya 100 yuan. Sedangkan sisanya diambil pria yang berjas tadi.

Betapa terkejutnya saya lagi ketika tiba di hotel, sopir taksi menunjukkan argo taksi kepada saya sejumlah 95 yuan. Jadi, sebaiknya bagi yang berminat ke Guangzhou ini supaya lebih berhati-hati, dan semoga Anda telah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk tulisan tentang tempat yang Anda akan tuju dalam bahasa Cina, bukan dalam bahasa Inggris. Hal itu akan memudahkan Anda di sini dan kemungkinan Anda tidak ditipu. [email penulis: t_muttaqien@yahoo.com]