Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan

Kematian di Kamp Konsentrasi Nazi

KAMP konsentrasi secara umum merupakan suatu tempat untuk mengumpulkan dan menahan lawan dan tawanan politik. Biasanya kamp konsentrasi didirikan saat perang atau pada masa sebuah negara bergejolak hebat.
Buchenwald merupakan salah satu kamp konsentrasi terbesar Nazi, dari sekian banyak kamp konsentrasi yang didirikan oleh Nazi Jerman di Eropa selama Perang Dunia II. Kamp Buchenwald berada di Weimar, kota di bagian tengah Jerman, berjarak sekitar 280 km dari Frankfurt. Weimar dapat dicapai dengan tiga jam perjalanan kereta api dari Frankfurt.
Kamp Buchenwald terletak di sebuah hutan terpencil di lereng Pegunungan Etter, sekitar 8 km dari Kota Weimar. Sepanjang jalan dari Weimar menuju ke kamp, kita akan melewati hutan lebat yang masih alami. Tak ada perumahan penduduk atau bangunan lainnya.
Kamp Buchenwald dibangun Juli 1937. Sebagai kamp terbesar, kamp ini terdiri atas 50 blok dengan luas lebih dari 10 hektare. Ada beberapa bangunan yang masih tersisa dan terjaga baik di kamp ini. Area kamp yang sangat luas membuat kita harus mempersiapkan fisik yang prima untuk menjelajahi setiap sudutnya. Entah mengapa, aroma kematian, sunyi, dan mencekam langsung terasa ketika kita menapaki bagian demi bagian dari kamp. Ditambah lagi angin dingin menusuk tulang yang berembus sepanjang tahun di kamp ini.
Melihat kondisi di dalam kamp, jelas tergambar kalau kamp ini merupakan kamp kerja paksa, kamp penyiksaan, dan pembantaian! Bahkan ada pengunjung yang kami lihat tak sanggup menahan air mata. Ia menangis saat melihat bekas-bekas kekejaman yang masih tersisa di kamp ini.
Kamp Buchenwald dibangun untuk menampung para tahanan politik di masa Adolf Hitler berkuasa di Jerman, juga untuk menahan kaum homoseksual, dan orang-orang Yahudi. Para tahanan bukan hanya dari Jerman, tapi hampir dari seluruh Eropa. Sekitar 50.000 tahanan diperkirakan meninggal di kamp konsentrasi ini.
Sisa-sisa kekejaman masih bisa kita temukan di sini. Penjara sempit nan kokoh, sel bawah tanah, dan alat-alat kerja paksa masih terpelihara dengan baik. Yang membuat saya dan istri berdiri bulu roma adalah ketika kami masuk krematorium, tempat pembakaran jenazah. Bangunan ini terdiri atas beberapa ruangan. Bagian depan bangunan merupakan ruang tahanan lengkap dengan berbagai alat penyiksaanya. Di sebelahnya terdapat ruang penyimpan mayat sebelum dibakar.  Tepat di tengah bangunan, di ruangan itu tersusun rapi enam tungku besar memanjang yang terbuat dari besi-besi tebal dan kuat, ukurannya masing-masing sebesar peti jenazah orang dewasa. Itulah alat yang katanya digunakan untuk membakar para tahanan. Setiap pengunjung yang masuk ke ruangan ini akan merasakan suasana hening dan syahdu saat memandangi bunga yang berjejer diletakkan di sekitar tungku itu. Pemandangan yang menakutkan yang membuat kita tak ingin berlama-lama di ruangan ini. Di samping ruangan tersebut, terdapat kamar yang di dalamnya tersusun rapi ratusan guci kecil yang berisi abu mayat para tahanan yang dibakar.
Pada tahun 1945, kamp ini direbut Uni Soviet. Dalam penguasaan Uni Soviet, menurut beberapa sumber, kamp ini juga tidak beralih fungsi. Justru digunakan untuk markasnya NKVD. NKVD merupakan Dinas Rahasia Uni Soviet. Tawanan yang ditahan di sini pada saat itu adalah mereka-mereka yang dianggap berafiliasi dengan Nazi yang membahayakan paham Stalin-ismenya Uni Soviet.
Saat Perang Dunia II berakhir, kamp ini diserahkan kepada Jerman pada 6 Januari 1950 dengan manifes 123.000 warga Jerman, 35.000 warga negara lainnya, dan setidaknya 43.000 dari mereka tak mampu lagi bertahan hidup.
Kini, kamp yang dulunya terkenal angker itu telah berubah fungsi sebagai tempat peringatan, tempat pameran, dan museum yang sepenuhnya dikelola oleh Buchenwald & Mittelbau Dora Memorial Foundation. 
[email penulis: reza.kamilin@gmail.com]

Kota Cherry

SEJAK awal Februari lalu saya mengikuti DAAD Alumni Winter School, sebuah even untuk alumni penerima beasiswa DAAD Jerman dengan bidang keahlian yang sama berkumpul, menambah pengetahuan dan jaringan untuk pengembangan karier mereka.
Winter School kali ini memiliki tema Quality and added value chain of organic products in developing countries. Diikuti oleh 25 peserta yang berasal dari berbagai negara seperti Thailand, Indonesia, Kirgistan, Brazil, Meksiko, Ekuador, Ethiopia, Iran, Pakistan, India, dan Kolumbia. Menariknya, para peserta memiliki tingkat pendidikan dan pekerjaan beragam yang notabene masih berhubungan dengan pertanian dan pangan. Misalnya, para peneliti, dosen, auditor, pengusaha, distributor bibit, manajer mutu, dan sebagainya.
Awalnya, kegiatan berlangsung di Witzenhausen, desa kecil di sebelah barat Frankfurt dengan total penduduk 17.000 jiwa. University of Kassel sebagai tuan rumah kegiatan memiliki “satellite campus” di kota ini yang khusus berorientasi pada penelitian pertanian organik dan berkelanjutan seperti teknologi pertanian ramah lingkungan, hortikultura, penelitian tanaman tropis, dan energi terbarukan.
Menariknya lagi, Witzenhausen juga satu-satunya kota yang memiliki kebun cherry terluas di Jerman bahkan di Eropa dengan hampir 1.300 jenis species ditanam di lahan warganya. Kombinasi unik ini mengharumkan nama Witzenhausen sebagai kota universitas terkecil di Jerman yang terdepan dalam penelitian tentang pertanian berkelanjutan dan juga sebagai “Kota Cherry” atau Kirschenstadt. Dari Witzenhausen ini pula dimulai pemisahan sampah organik dan nonorganik serta pengguna bin atau tong sampah hijau sebagai tempat sampah organik yang kini digunakan di seluruh Jerman. Jadi, kota ini sudah menginspirasi “gerakan hijau” untuk seluruh Jerman.
Kegiatan Winter School di Witzenhausen ini berlangsung seminggu sejak 3-10 Februari 2014 dengan aktivitas yang beragam seperti seminar, workshop, dan kunjungan ke lahan pertanian, distributor, dan industri pangan yang semuanya berbasis organik.
Banyak hal menarik yang saya dapati dalam kunjungan ini. Salah satunya adalah bagaimana para pelaku industri organik ini menerapkan prinsip sustainability atau keberlanjutan dalam industri ini. 
Herr Oliver, MiBusa Manager Director memahami sustainability sebagai sebuah investasi dengan penerapan teknologi canggih ramah lingkungan, menggunakan kembali energi panas yang dihasilkan oleh gudang pendingin sebagai sumber energy listrik, penggunaan sensor panas tubuh dalam electricity system, sehingga lampu LED akan on atau off dengan sendirinya ±15 detik sejak kita masuk atau meninggalkan ruangan. Menurutnya, investasi ini bukan hanya mengurangi dampak lingkungan tetapi juga mengurangi biaya pemeliharaan dan operasi yang ujungnya menguntungkan perusahaan.
Naturkosten Elkerhausen, perusahaan distributor buah dan sayuran segar mendefinisikan sustainability sebagai hubungan jangka panjang, kekeluargaan antara perusahaan dengan supplier dan konsumen, sehingga mereka menginvestasikan dana dan waktu dalam bentuk silaturahmi, menciptakan ikatan emosional yang erat antara pemasok dan konsumen dalam bentuk post card, cerita pendek, dan lainnya.
Lebih menarik lagi adalah pengertian pertanian berkelanjutan oleh petani organik di Dottenfelderhof. Dottenfelderhof memiliki lahan seluas 1.000 ha yang dikelola oleh tujuh keluarga berjumlah 117 orang yang ditanami berbagai jenis gandum sesuai musim, kentang, wortel, dan jenis sayuran lainnya. Selain itu, sapi perah, sapi potong, dan ayam petelur juga dipelihara dengan jumlah tertentu.
Frau Margareth Hinterlang, salah seorang petani senior mengatakan bahwa dalam sebuah sistem pertanian, manusia, tanaman, dan hewan ternak hidup berdampingan dan saling membutuhkan. Jika salah satu dihilangkan maka sistem tersebut akan timpang. “Oleh karena itu, kami di sini memelihara hewan ternak yang akan membantu kami menyuburkan lahan dan juga menyediakan kami daging dan susu, menanam gandum, buah, dan sayur lalu menjualnya di sini. Konsumen datang dan membeli keju, roti, dan produk kami di depan dan jika mereka mau, mereka dapat melihat dari mana susu itu diperoleh, bagaimana kentang itu disimpan. Itu adalah hak konsumen dan kami akan dengan senang hati memperlihatkannya,” kata Hinterlang.
Mengunjungi dan berkomunikasi langsung dengan para pelaku pasar pertanian di sini, mengingatkan saya dengan kampung halaman, Aceh. Tergambar jelas di pikiran saya blue print pertanian Aceh yang sukses jika pemahaman seperti di atas dimiliki oleh pelaku pasar produk pertanian kita. Selain menjaga bumi dan lingkungan kita yang semakin lama sudah semakin rusak, sistem pertanian berkelanjutan juga memberikan produk pangan yang lebih sehat untuk kita konsumsi. Semoga. 
[email penulis: hasni.dian84@gmail.com]

Berhaji dari Jerman

SEBAGAI orang Aceh, awalnya tak pernah terbayang oleh saya dan suami akan berhaji dari negara orang. Tapi dari teman-teman yang sudah pernah haji dan umrah, kami lalu mendapat informasi tentang bagaimana prosedur berhaji dari Jerman. Peluang ini tidak kami lewatkan.
Mulailah kami hubungi beberapa biro perjalanan untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan sehingga bisa menjadi calon jamaah haji.
Setelah semua syarat terpenuhi, kami kuatkan tekad untuk berhaji dari Jerman. Orang Arab menyebut Jerman dengan ‘Alemania’. Ya begitulah, akhirnya kami memilih biro perjalanan bernama Soultreat  untuk bertolak ke Arab Saudi dari Negeri Alemania ini.
Kantor Soultreat kebetulan ada di Frankfurt, dekat dengan tempat domisili kami. Lagi pula istri pendiri biro jasa perjalanan ini berdarah Melayu. Jadi, secara bahasa kami mudah berkomunikasi dengannya. Di samping itu, perusahaan ini menyediakan opsi untuk memilih amirul hajj  dengan berbagai bahasa, seperti Jerman, Inggris, Prancis, Arab, Barber-Maroko. Kami akhirnya memilih amirul hajj berbahasa Inggris dan Jerman.
Semua hal terkait perjalanan haji mulai dipersiapkan. Bukanlah hal yang mudah mengumpulkan perlengkapan haji di negeri yang muslimnya minoritas seperti Jerman. Kami juga harus mengikuti seminar dan manasik haji yang semuanya disampaikan dalam bahasa Jerman. Seminar hanya berlangsung dua sampai tiga kali pertemuan. Selebihnya, kita sendiri yang sangat dituntut untuk mandiri, mempelajari semua yang berhubungan dengan ibadah haji.
Selain memperbanyak ilmu, kita juga harus mempersiapkan fisik. Misalnya, memperbanyak jalan kaki sebagai latihan rutin.
Tanggal pemberangkatan pun akhirnya tiba. Kami naik pesawat Lufthansa dari Frankfurt am Main menuju Jeddah. Labbaika ya Rabbi. Penerbangan memakan waktu lebih kurang lima jam. Walaupun kami berangkat dengan kuota haji Jerman, tapi di rombongan kami terdapat banyak warga Jerman keturunan Pakistan, Afrika, Maroko, Turki, Bosnia, Ukraina, Masedonia, dan tentu saja bule muslim Jerman serta dari beberapa negara lain.
Seluruh rombongan haji dari travel yang membawa kami jumlahnya lebih dari 900 orang. Terbagi dalam dua penerbangan. Selain dari Bandara Internasional Frankfurt am Main juga ada yang terbang dari Bandara Internasional Munich.
Sebagaimana halnya Indonesia, Jerman juga termasuk negara yang terkena dampak pengurangan kuota jamaah haji tahun ini sebesar 20 persen. Ini berakibat pada pengurusan visa haji yang lambat dan justru baru kami terima sekitar tiga hari menjelang keberangkatan ke Jeddah.
Segala puji hanya milik Allah, seluruh aktivitas haji kami, alhamdulillah, berjalan lancar.  Seminggu sebelum waktu wukuf di Arafah terjadi angin kencang yang sangat hebat, sehingga menerbangkan sebagian besar tenda-tenda di padang luas tersebut.
Perjalanan selama 25 hari terasa begitu singkat, sejak 30 Oktober lalu. Kami mengikuti berbagai program yang diselenggarakan panitia travel, seperti seminar dengan berbagai tema haji, program tajwid Quran, dan ziarah. Sungguh pengalaman spiritual yang tak mungkin terlupakan.
Di Madinah, kami juga bertemu dengan warga negara Indonesia yang berhaji melalui Australia, Inggris, Swiss, dan dari berbagai negara lainnya. Di tengah kecilnya kuota berhaji dari Tanah Air dengan peminat yang selalu bertambah tiap tahunnya--sehingga makin memperpanjang daftar tunggu (waiting list) calon jamaah haji Aceh-- saya terpikir mengapa tidak berhaji dari luar negeri saja bagi orang Aceh yang kebetulan sedang menetap di luar negeri. Cara ini bisa menjadi salah satu alternatif bisa cepat naik haji, tanpa harus mengurangi jatah kuota Indonesia tentunya. 
[email penulis: yusnie.zahara@gmail.com]

Merkers, Tambang Garam Jerman yang Menakjubkan

KITA di Aceh biasanya mengenal istilah lancang garam, tempat petani garam bekerja mengolah air laut menjadi garam. Namun, kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya di tambang garam Merkers yang saya kunjungi di negara Jerman. Tambang Merkers ini terletak di Wera, Thuringia, wilayah Jerman Timur. Selayaknya tambang emas, di sini garam benar-benar ditambang. Mereka bahkan menamai garam sebagai emas putih (white gold).
Konon endapan garam di bumi Jerman terjadi secara alamiah dari lautan yang terjebak di dalam cekungan daratan. Setelah proses penguapan dalam kurun waktu jutaan tahun, terbentuklah lapisan batuan garam yang sangat keras dengan berbagai warna.
Batu garam ini terbentuk dari kumpulan mineral yang sering disebut halite. Mineral halite mempunyai rumus kimia NaCl. Garam mempunyai berat jenis 2,1 g/cc, lebih ringan dari sedimen-sedimen lain di sekelilingnya. Akibatnya, lapisan batuan garam cenderung menerobos ke arah permukaan. Pada bagian tertentu menyebabkan timbulnya kubah-kubah garam, bahkan ada yang mencapai permukaan lautan.
Karena kondisi geologi inilah, kemudian warga Jerman memperoleh garam dengan cara yang tak lazim. Penambangan dilakukan untuk menghasilkan garam untuk industri makanan dan kesehatan, terutama untuk pupuk pertanian (potasium). Prinsip kerjanya, meledakkan batuan garam, lalu mengumpulkannya, dan memrosesnya di penggilingan.
Pada saat ini terdapat puluhan tambang seperti Merkers tersebar di seluruh daratan Jerman. Bayangkan bahwa di dalam bumi Jerman sana terdapat puluhan kilometer2 batuan garam. Subhanallah. Saat ini Merkers memberikan peluang bagi pengunjung untuk berwisata ke dalam tambang tersebut dan menikmati aroma bawah tanah yang dulunya hanya dapat dirasakan oleh pekerja. Para pekerja tambang itu konon tak pernah melihat matahari, karena mereka mulai bekerja ketika matahari belum ke luar dan kembali ke rumah untuk beristirahat ketika hari sudah gelap. Petualangan ini selain menghibur, juga menambah wawasan keilmuan kita tentang pengolahan garam.
Petualangan yang saya ikuti ke pertambangan garam ini dimulai dengan membeli tiket yang berbentuk cincin besi. Hal ini untuk memudahkan pengelola mengidentifikasi jumlah pengunjung. Ketika memasuki tambang, cincin-cincin tadi harus diserahkan kepada penjaga pintu, dengan demikian penjaga pintu tahu berapa orang yang berada di dalam tambah tersebut. Petualangan disediakan bagi grup berjumlah 10-30 orang. Setiap orang harus memakai baju khusus dan helm. Kemudian kami menuju sebuah lift tiga tingkat yang membawa kami ke kedalaman 500 meter di bawah permukaan tanah selama 90 detik. Di sana kami melanjutkan perjalanan dengan sebuah truk sejauh 20 km sampai ke kedalaman 800 meter. Sopir yang sekaligus guide kami sangat pandai mengemudi, kadang kala pelan dan kadang kala sangat kencang sehingga membuat penumpang hiruk pikuk histeris. Ternyata kecepatan maksimum yang diperkenankan 35 km/jam, namun bagi kami saat itu kecepatan truk seolah-olah sangat kencang. Kami berhenti di beberapa point penting. Uniknya, kami merasa hangat di bawah tanah dan tak perlu jaket, padahal di atas suhu antara 3-6 °C.
Pertama kami dibawa menyaksikan sebuah film bagaimana proses penambangan dilakukan. Bom-bom harus dipasang pada banyak titik untuk menghancurkan bongkahan garam seluas 5 m2. Film ini dibuat seolah-olah nyata, terutama sekali waktu bom meledak, suara menggelegar seperti telah terjadikan ledakan yang sebenarnya. Hasil ledakan inilah yang kemudian diolah mejadi berbagai jenis garam mineral yang bermanfaat bagi manusia.
Pada stasiun kedua kami berhenti di museum garam. Di sini kami melihat dokumentasi dan contoh fisik peralatan yang digunakan selama penambangan. Seratus tahun lalu semua peralatan masih manual dan digerakkan dengan tenaga manusia. Kemudian sistem troli mulai diaplikasikan sampai akhirnya sistem listrik dan automatic modern.
Pemberhentian selanjutnya adalah sebuah terowongan garam berukuran panjang 250 m, lebar 22 m, dan tinggi 17 m. Karena keindahannya, ruang ini didesain pula menjadi sebuah auditorium konser (sebuah hall concert bawah tanah terbesar di dunia). Putih bersih seperti kaca, tetapi sesungguhnya itu adalah batuan garam.
Pada kedalaman 800 m, kami memasuki sebuah ruang kristal yang ditemukan pada tahun 1981. Kristal ini sebenarnya adalah lapisan garam sangat tebal mencapai 1 m yang terbentuk secara alamiah. Akibatnya ruang ini menjadi berkilau dan bercahaya. Sungguh indah.
Tambang Merkers berperan penting dalam sejarah Jerman. Pada masa Perang Dunia II, tambang ini pernah menjadi tempat penyimpanan uang dan emas Pemerintah Jerman (220 ton emas batangan). Namun sayang, tentara Amerika berhasil menemukan harta tersebut dan mengangkutnya sampai habis. Napas saya serasa terhenti ketika berada dalam kamar emas (Gold raum) tersebut. Kantung-kantung uang dan emas imitasi masih memenuhi ruangan dilengkapi dengan poster yang menceritakan sejarah ruang emas tersebut. Wisata ke tambang Merkers benar-benar menghibur, unik, dan menambah pengetahuan saya. Anda kapan? [email penulis: rkhathir79@gmail.com]