Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan

Antusiasnya Warga Mesir Menziarahi Makam Ulama

SAYA sangat terkesan dengan semangat ziarah masyarakat Mesir ke makam-makam para ulama. Ada sebuah kesadaran dan rasa bangga pada masyarakat Mesir bahwa negerinya adalah negeri para ulama dan aulia. Dengan demikian, rasa takzim kepada ulama masih sangat besar meski gesekan-gesekan aliran keagamaan tetap terasa di sini.
Tinggal di Mesir terasa hambar jika tidak mengunjungi makam para ulama. Tidak sah datang ke Mesir jika orang Aceh tidak menziarahi makam Imam Syafi’i. Makam beliau terletak di dalam Masjid Imam Syafi’i, kawasan Sayyeda Aisya. Di masjid ini juga ada makam Imam Zakaria Al-Anshari yang dikenal dengan gelar Syaikhul Islam. 
Saya merasa beruntung karena tinggal berdekatan dengan Masjid Hussein yang di dalamnya terdapat makam Sayidina Hussein, cucu Nabi Muhammad saw. Banyak sekali orang Mesir yang datang dari berbagai provinsi berziarah ke sini.
Di pengujung musim dingin ini saya rencanakan untuk berziarah ke makam ulama tarikat Syaziliyah, yakni Abu Hasan Syazili di Kota Aswan, selatan Mesir. Ziarah terakhir kali saya lakukan bersama rekan-rekan Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir ke Provinsi Sinai untuk mengunjungi makam Nabi Saleh ‘alaihissalam.
Baru-baru ini organisasi Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kairo membuat program ziarah ke makam para ulama di Alexandria. Kota ini pada suatu masa dulu pernah menjadi lumbung ilmu. Banyak kuburan para fakih dan sufi di sini, seperti Imam Busyairi, pengarang kitab Burdah, juga kuburan Nabi Danil.
Saya memantau bagaimana masyarakat Mesir bisa menempatkan ziarah religi ini dengan sangat apik. Ziarah ke makam-makam para ulama dilakukan untuk memuaskan batin dan bertawasul. Sementara di Aceh saya merasakan sebaliknya, dua tahun lalu ketika mengunjungi  makam Teungku Chiek Pante Kulu, saya merasa sedih campur kecewa, karena makam pengarang hikayat Prang Sabi itu kurang terawat. Saya merasakan animo dan kesadaran masyarakat untuk berziarah sangatlah kurang. Ziarah ke makam-makam para ulama belumlah dijadikan sebagai bagian dari ibadah.
Di Mesir, walaupun masyarakatnya berprofesi sebagai birokrat, namun ia tetap menyempatkan diri menjadi peziarah. Meski demikian, bukan berarti makam para ulama di Mesir terawat dengan baik. Bahkan banyak juga yang terabaikan begitu saja. Cuma, yang sangat menarik adalah antusiasme para peziarah yang luar biasa besarnya.
Mengunjugi makam para ulama setidaknya bisa mengobati hati yang gersang. Kita semata-mata hanya mengambil keberkahan dari kegiatan berziarah ini, sekaligus bertafakur meneladani semangat keulamaan generasi terdahulu. Dari sana kita kembali diingatkan  tentang “kampung keabadian”, karena sebaik-baik nasihat adalah kematian. 
Ghirah Aceh dulu yang sangat menakzimi para ulama perlu kita hidupkan kembali. Anak-anak muda Aceh harus tahu bahwa menziarahi makam para ulama adalah bagian dari memajukan tamadun (budaya) Aceh. Ya Allah, berkahi negeri kami yang kini kerap dilanda prahara politik dan keamanan.
[emailk penulis: azmi_mali2000@yahoo.com]

Seribu Satu Kisah Cairo

InsyaAllah. Mulai hari ini saya akan berbagi cerita-cerita menarik dari kota yang penuh sejarah ini. Kota yang terletak di Mesir. Namun tidak menutup kemungkinan ceritanya akan mengembang ke negeri Mesir pada umumnya.

Khususnya di Cairo, banyak sekali hal yang bisa dibilang 'sangat aneh'. Sering membuat jengkel salah satunya. Amarah akan 'mode on' pada satu waktu. Pada waktu yang lain hati menjadi dingin. Orang-orang ada yang mengatakan 'Kota Misterius'. Semisteri apakah kota Cairo ini?

Diaspora Aceh di Mesir

KALAULAH makna ‘diaspora Indonesia’ seperti dikatakan Dino Pati Djalal semasa menjabat Dubes RI untuk Amerika Serikat, yaitu semua orang berdarah dan berbudaya Indonesia yang tinggal di luar wilayah Indonesia, maka tentulah semua orang berdarah Aceh di Mesir yang mayoritasnya mahasiswa, bisa dikatakan diaspora Aceh di Mesir. Setelah tentunya termasuk dalam diaspora Indonesia.
Adapun awal mula kedatangan orang Aceh ke Negeri Piramid ini yang tercatat sejarah, dimulai oleh Syekh Ismail bin Abdul Muthallib al-Asyi. Beliau ketua perhimpunan mahasiswa Melayu pertama di Mesir. Syekh Ismail adalah murid Syekh Ahmad Al-Fathani, perintis orang Melayu pertama belajar di Masjid Al-Azhar (1292-1299 H).
Ketika kembali ke Mekkah beliau mendorong murid-muridnya untuk belajar di Mesir. Salah satu muridnya yang berangkat ke Mesir adalah Syekh Ismail bin Abdul Muthallib al-Asyi tersebut. Di antara sumbangsih beliau adalah mentashih kitab-kitab ulama Aceh seperti Tajul Muluk dan Jam’u Jawami’il Mushannafat atau yang dikenal dengan Kitab Lapan.
Setelah itu, tak diketahui pasti berapa jumlah orang Aceh yang datang menuntut ilmu di “Negeri Para Anbiya” ini. Hingga pada tahun 1974 tercatat ada sepuluh orang mahasiswa Aceh di Mesir. Mereka pun berinisiatif mendirikan paguyuban Aceh bernama Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir.
Pemilihan kata keluarga menyiratkan bahwa perkumpulan ini lebih dari sekadar organisasi, tapi juga sebagai keluarga yang saling mengayomi dan menyayangi. Ketua pertamanya adalah Tgk Ilyas Daud, menjabat dari tahun 1974 hingga 1984. Kemudian KMA dipimpin Tgk Azman Ismail (sekarang Imam Besar Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh). Beliau memimpin KMA hingga tahun 1992.
Dengan berjalannya waktu, serta pesona Mesir dengan segala kelebihan dan kekurangannya, jumlah orang Aceh di sini pun terus bertambah. Ketika satu generasi selesai, datang pula generasi baru. Hingga sekarang umur KMA Mesir telah masuk tahun ke-40 dan jumlah mahasiswa Aceh di Mesir saat ini mencapai 226 orang.
Di KMA ini pula lahir media cetak pelajar asing tertua di Mesir, bernama Buletin El-Asyi. Merasa perlu wadah kreasi dan komunikasi antaranggota KMA ketika itu, maka Tgk Fakhrul Ghazi (cucu Tgk Daud Beureueh) dan kawan-kawan menerbitkan edisi pertama buletin ini pada 1 Januari 1991. Pimpinan redaksinya beliau sendiri. Seiring waktu, pimpinannya terus berganti setiap periode tertentu. Dengan semangat dan kerja keras kru di setiap generasinya, alhamdulillah buletin ini mampu bertahan hingga kini dan akan menuju edisi ke-119.
Masyarakat Aceh di Mesir meski mendapat pendidikan dari orang Arab, tapi tidak serta merta lupa pada budaya aslinya. Rapa-i geleng dan saman terus dilestarikan. Bahkan sanggar seni Aneuk Nanggroe KMA sering diminta mewakili Indonesia dalam even internasional di Mesir.
Apabila masuk bulan maulid Nabi Muhammad saw, mahasiswa Aceh di Mesir juga mengadakan kenduri molod. Tidak kalah dengan yang di Aceh, masyarakat di sini juga mendaulat penceramah serta menampilkan grup selawat dan dikee (zikir) memuji baginda Nabi saw.
Tak hanya itu, solidaritas masyarakat Aceh di sini pun sangat kuat. Jika ada keluarga anggota KMA yang meninggal di Tanah Air, akan diadakan shalat gaib bersama dan tidak lupa dilaksanakan tahlilan (samadiah) dan bacaan Yasin sebagaimana di Aceh.
Pembinaan terhadap anggota baru juga selalu dilakukan. Ketika calon mahasiswa baru tiba di Mesir, mereka langsung dibimbing memahami diktat kuliah tahun pertama. Kemudian diadakan try out ujian seperti di kampus, guna menghadapi ujian yang sebenarnya nanti.
Hidup berdampingan dengan orang Mesir, memberi warna tersendiri bagi diaspora Aceh di negeri ini. Kedermawanan masyarakat pribumi, keikhlasan guru-guru, ketawadukan para masyayikh dan berbagai kebaikan yang telah diberikan kepada para penuntut ilmu, menjadi contoh yang layak untuk dibawa pulang ke Tanah Air.
Namun, setiap tempat tentu memiliki kekurangan, tak terkecuali Mesir. Terkadang terdapat perbenturan budaya yang kurang nyaman. Meski begitu, negeri Nabi Musa As ini tak pernah kehabisan pesona untuk menarik pendatang. Apalagi cagar budayanya luar biasa unik dan tua. Al-azhar dengan manhaj wasathiah-nya pun tak henti-henti mengundang para pelajar Islam untuk menginjakkan kaki di negeri ini.
Tahun ini, misalnya, 13 mahasiswa baru asal Aceh tiba di Mesir untuk kuliah. Mereka ini menambah lagi kuantitas diaspora Aceh di Mesir.
Al-Azhar telah memuaskan dahaga penuntut ilmu agama selama ratusan tahun. Ia anugerah Allah bagi Mesir dan umat Islam. Insya Allah tradisi keilmuannya akan terus berlanjut. Semoga diaspora Aceh yang lahir dan berkembang dari rahim Azhar dapat mengokohkan dan mewarnai sendi keislaman di Tanah Air ketika mereka kembali kelak.
[email penulis: chech_arrazy@yahoo.com]

Belajar Bahasa Turki di Mesir

DALAM satu bulan ini saya mendapat kesempatan untuk tinggal di asrama Turki di Distrik Muqattam, Kairo. Di asrama ini saya disambut direktur asrama, Ustaz Abdul Majid yang berkewarganegaraan Albania. Hal ini menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Pertama, saya tinggal bersama insan-insan berilmu yang mempunyai semangat belajar yang dahsyat. Kedua, saya mempunyai kesempatan untuk belajar langsung bahasa Turki yang sebenarnya sangatlah mudah.
Sebelumnya saya pernah mengikuti latihan bahasa Turki bersama para pengajar dari lembaga bahasa Turki, Nile School. Kesempatan ini saya ambil ketika proses belajar-mengajar di Universeitas Al-Azhar sedang libur pascaujian.
Komunitas Turki di Mesir memang tidak sebanyak komunitas Indonesia, namun perhatian mereka kepada peningkatan sumber daya manusia (SDM) sangatlah bagus dan terencana, ditandai dengan banyaknya asrama Turki di Mesir.
Kemudian, saya melihat Turki sangat gencar mempromosikan budayanya lewat pengajaran bahasa dan wisata kuliner Turki di Kairo.
Hubungan Turki dengan Indonesia di Mesir berjalan baik, khususnya secara lokal sudah ada hubungan timbal balik antara pelajar Aceh-Turki.
Beberapa minggu lalu, pihak Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) di Mesir memprakarsai acara dialog budaya antara Aceh-Turki. Hadir dalam acara ini pemateri dari Turki, juga hadir Atase Pendidikan KBRI Kairo, Bapak Dr Fahmi Lukman MHum. Acara seperti ini saya rasa sangat penting untuk menumbuhkan semangat bertamaddun.
Saya pribadi sangat berkeinginan untuk bisa melanjutkan studi di Turki, khususnya dalam bidang sejarah-antropologi. Para mahasiswa yang tinggal di asrama Turki ini sering bertanya, bagaimana kabar Aceh, bagaimana keadaan Aceh pascatsunami? Saya bercerita banyak hal, termasuk eksisnya PUKAT, lembaga independen yang berorietasi pada masalah budaya Aceh-Turki. Saya turut menyebut nama Mehmet Ozay, pakar dan peminat sejarah Aceh yang gencar menuliskan pemikirannya tentang sejarah Aceh di surat kabar Turki.
Di asrama Turki di Mesir, saya merasakan budaya Turki yang tak berbeda jauh dengan Aceh, termasuk dalam hal bermuamalah. Terkadang ketika berjabat erat tangan-tangan orang Turki, saya merasakan romantisme hubungan Kesultanan Aceh Darussalam dan Turki Utsmani. Yakni romantisme yang berorientasi pada segala bidang, termasuk bidang ekonomi dan politik. [email penulis: azmi_mali2000@yahoo.com]

Solidaritas Orang Mesir

SELAIN sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya Islam, Mesir juga dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban sangat tinggi. Terbukti dengan adanya penemuan artefak-artefak kuno dan bermacam bangunan yang menggambarkan bagaimana kehidupan bangsa Mesir kuno yang hidup ribuan tahun Sebelum Masehi itu.
Pencapaian-pencapaian peradaban Mesir kuno, antara lain, adalah  teknik pembangunan monumen, seperti piramid dan kuil, pengetahuan matematika, teknik pengobatan, seni arsitektur, dan bermacam ilmu.
Tak hanya dari segi peradaban, di lain sisi bangsa Mesir juga terkenal sebagai bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, sebagaimana diungkapkan oleh sebagian besar pakar sejarah Barat yang mempelajari tentang peradaban Mesir kuno.
Dalam pemahaman bangsa Mesir kuno, mereka mempunyai pemahaman yang beragam tentang masalah ketuhanan, mulai dari menyembah Sungai Nil yang mereka anggap sebagai sumber kehidupan pada masa itu, menyembah hewan, dewa, sampai dengan menyembah raja-raja, hingga akhirnya datanglah agama Islam yang dibawa oleh salah seorang sahabat Rasulullah, yaitu Amru bin ‘Ash.
Setelah Islam masuk ke Mesir, bangsa Mesir sangat memegang teguh nilai-nilai yang dibawa oleh agama Islam sendiri. Di antara nilai-nilai Islam yang sangat kental dalam kehidupan orang Mesir adalah tingginya rasa sosial yang dimiliki oleh bangsa ini. Hal inilah yang membuat saya sebagai orang asing yang tinggal di Mesir merasa terkagum-kagum ketika bisa secara langsung merasakannya.
Di antara contoh yang nyata dan sering terjadi adalah mudahnya semua akses transportasi di jalanan bagi orang yang memiliki keterbatasan fisik, baik orang yang sudah berumur lanjut maupun yang cacat fisik. Hal ini bukan karena canggihnya teknologi transportasi yang ada di Mesir, melainkan karena budaya orang Mesir yang suka tolong-menolong. Bagi orang tunanetra, misalnya, mereka tak perlu khawatir ke luar rumah sendirian karena pasti akan ada orang yang selalu membantu mereka mulai ke luar dari rumah sampai kembali lagi dengan selamat dan tak akan tersesat.
Saya sendiri pernah merasakan langsung hal itu ketika menuntun seorang kakek tunanetra yang baru turun dari angkot. Ketika itu kami satu angkot. Setelah turun, sopir angkot itu meminta saya menuntun kakek tadi menuju gerbong kereta api listrik bawah tanah untuk pulang ke rumah. Saya pun langsung menyanggupinya, karena saya juga menuju ke gerbong kereta. Dalam perjalanan beliau banyak bertanya tentang saya. Ketika beliau tahu bahwa saya bukan orang asli Mesir, beliau sangat kagum dan berkata: Ternyata bukan cuma orang Mesir yang suka menolong. Mendengar hal itu saya cuma bisa tersenyum. Sambil terus melanjutkan perjalanan, beliau menasihati saya sebagai seorang penuntut ilmu yang merantau jauh dari negeri asal.
Sebelum sampai di gerbong kereta, saya terpaksa harus berpisah dengan beliau, karena arah yang kami tuju berbeda. Melihat saya yang sedang bingung, orang Mesir yang ada di sana langsung menghampiri kami. Ternyata orang itu sudah paham dengan apa yang sedang saya rasakan, tanpa banyak bicara dia langsung memegang tangan si kakek dan menuntunnya. Sebelum berpisah, saya tak lupa meminta pada si kakek didoakan supaya dimudahkan dalam ujian semester II yang sedang saya hadapi di Al-Azhar.
Rasa sosial yang tinggi ini bukan hanya antara sesama orang Mesir, tetapi juga dirasakan oleh orang asing yang tinggal di sini, khususnya para penuntut ilmu. Tak jarang para mahasiswa mendapatkan bantuan uang dari orang Mesir dalam jumlah besar dan ini sangat membantu kelancaran kuliah mahasiswa yang tinggal jauh dari negaranya.

Melihat dan merasakan kebaikan orang Mesir ini mengingatkan saya akan Tanah Rencong tercinta yang masyarakatnya juga terkenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan sosial, walaupun akhir-akhir ini nilai-nilai itu mulai terkikis seiring era globalisasi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Semoga nilai-nilai yang positif ini terus terjaga di bumi Seuramoe Mekkah ini. Amin. [email penulis: fazlul.ridha@yahoo.com]

Berkain Sarung Itu Aib

SUNGGUH menakjubkan, ketika kami pertama kali mendarat (landing) di Kairo, Mesir, Senin lalu. Kota yang sangat terkenal dalam sejarah Islam dan dijuluki “Negeri Fir’aun”. Mesir identik dengan negara yang bernuansa Islam tapi sekuler, banyak peninggalan sejarah yang dapat kita kunjungi, seperti Makam Imam Syafi’i, Universitas Al-Azhar, Piramid dan Sphinx, Terusan Suez, Sungai Nil, Luxor, Laut Merah, dan lain sebagainya.
Dalam suatu perjalanan di Kairo, saya bersama rombongan yang dipimpin Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA, juga Dr Muhibbuthabry MAg (Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry) dalam rangka mengikuti Lokakarya Internasional Kurikulum Bahasa Arab untuk Perguruan Tinggi, kerja sama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan Pemerintah Mesir, menyempatkan waktu untuk berziarah ke makam Imam Al-Ghazali.
Ternyata luar biasa menakjubkan wisata spiritual di sini. Hampir dapat dipastikan tidak ada manusia (umat) yang beriman kepada Allah Swt yang tidak merinding bulunya ketika memasuki makam Syafi’i, imam yang mejadi pengikut Ahlul sunnah wal-jama’ah di seluruh jagat raya, khususnya di Aceh yang berjuluk Serambi Mekkah.
Makam Imam Syafi’i, tepatnya terletak di daerah Saidah Aisyah, Kota Kairo. Ada hal yang menarik ketika kami memasuki Masjid Imam Syafi’i yang terletak bersebelahan dengan makamnya. Ada salah seorang jamaah dalam rombongan kami dari Indonesia ingin menunaikan shalat dan ia mengganti celana panjangnya dengan kain sarung. Ternyata semua jamaah lainnya (orang Mesir) melihat dan memperhatikannya, seperti kita melihat sesuatu yang kita anggap aneh.
Kemudian saya coba tanyakan kepada seorang jamaah berkebangsaan Mesir di masjid tersebut, “Mengapa Anda melihat dan memperhatikan teman saya dengan pandangan yang aneh?” Dengan gamblangnya dia menjawab. “Ini sesuatu aib bagi kami di sini, Saudaraku.”
Saya sungguh terkejut atas jawabannya, karena ‘aib’ dalam pemahaman saya adalah sesuatu yang memalukan atau sesuatu yang seharusnya ditutupi.
Di tengah kebingunan saya, dia lanjutkan penjelasannya, “Pasangan suami istri di Mesir lazimnya menggunakan kain sarung setelah bersetubuh, bukan untuk menunaikan shalat, apalagi saat memasuki masjid sebagai tempat yang sangat terhormat dan mulia.”
Setelah mendengar penjelasan itu barulah saya mengerti mengapa dia dan jamaah lainnya yang berkebangsaan Mesir heran dan merasa aneh ada seorang jamaah yang ternyata dari Aceh, Indonesia, mengenakan kain sarung saat shalat di masjid.
Begitupun, tetap saja saya coba jelaskan bahwa orang Indonesia lazimnya menggunakan kain sarung pada saat ingin shalat dan bepergian ke masjid. Namun, warga Mesir yang berbincang dengan saya itu rasanya tidak sanggup untuk menahan tawanya, karena berkain sarung di masjid itu tetap dia anggap aneh lantaran tergolong bagian dari aib.
Menjelang perpisahan kami, orang Mesir itu tetap mengingatkan supaya pengunjung dari Aceh atau dari mana pun, jangan pernah mengenakan kain sarung di Mesir. Apalagi pada saat sedang berjalan kaki melintasi tempat umum, karena hal itu pasti dipandang sebagai aib.
Lantas, kalau bukan kain sarung lalu apa? Orang Mesir ternyata lazimnya mengenakan baju kurung dan berjubah. Kami perhatikan, memang sama sekali tidak ada jamaah yang memakai kain sarung di masjid tersebut, kecuali satu orang, anggota rombongan kami dari Aceh. Demikian juga ketika kami shalat Jumat berjamaah, Jumat (29/11/2013) lalu. Hampir semua jamaah memakai celana panjang.

Sungguh ini sangat bertolak belakang dengan kultur/budaya orang kita di Indonesia, terutama di Aceh, dalam mengukur tingkat kealiman. Seolah teungku yang paling sering memakai kain sarung, itulah yang paling karismatik dan tinggi maqam kealimannya. Semoga ini menjadi cerminan bahwasanya kain sarung itu bukanlah sesuatu yang menjamin dan merefleksikan tingkat ketaatan/kealiman kita pada Allah Swt, sebagaimana pemahaman warga Mesir. Semoga bermanfaat. [email penulis: saiful.ptn@gmail.com]

Wajah Kairo yang Sesungguhnya

TERPANCING oleh sejumlah tulisan sahabat-sahabat saya yang dipublikasi di media massa tentang Kairo, saya juga ingin menulis pengalaman saya mengenai kota yang penuh misteri ini. Tapi saya hanya akan membahas hal yang negatifnya saja, karena hal yang positif dari kota ini sudah sangat banyak yang menulis.
Lagi pula, semua penduduk bumi sudah tahu bahwa Mesir adalah kota peradaban, kiblat ilmu pengetahuan Islam yang moderat, kota para nabi, kota seribu menara, kota yang masyarakatnya memiliki rasa sosial tinggi, serta berbagai julukan manis lainnya. Tapi tahukah sahabat sekalian bahwa Kairo ini juga layak diberi julukan yang 100% terbalik dari julukan manis yang sudah saya uraikan di atas?
Ada sebuah ungkapan, “Jika Anda ingin merasakan suasana hidup di zaman batu, zaman prasejarah, zaman di mana orang belum mengenal apa-apa, dan hukum rimba berlaku, maka tidak ada salahnya Anda coba bertandang ke Kairo.” Ungkapan ini tidak berlebihan jika kita melihat watak masyarakat Kairo sekarang. Saya sebagai pelajar asing cukup resah dengan watak-watak warisan Fir’aun ini. Sebagai contoh, ketika ke luar rumah, saya harus siap melihat dan mendengar betapa rasisnya orang Mesir, khususnya terhadap pelajar Asia. Mereka akan selalu dipanggil dengan sebutan shiniy (orang Cina). Sejauh pengetahuan saya, panggilan shiniy ini adalah panggilan rasis orang Mesir terhadap orang Cina, disebabkan barang-barang Cina yang beredar di seantero Kairo berkualitas rendah.
Di perjalanan juga Anda harus ekstrahati-hati, sebab bisa saja ada anak-anak atau pemuda Mesir yang usil melemparkan batu ke Anda atau menyiramkan air dari teras rumahnya. Jadi, bersiaplah untuk membawa oleh-oleh pulang ke rumah, baik lecet, lebam, atau basah kuyub. Belum lagi kalau Anda berada di tempat sepi ataupun di malam hari, Anda akan menjadi mangsa lezat perampok yang membawa pistol maupun senjata tajam. Anda akan merasa waswas jika berjalan hanya sendirian atau berdua saja di malam hari, karena polisi Mesir yang cuek bebek terhadap keamanan warga asing di Kairo “tercinta” ini.
Di kota ini, Anda juga akan mendapati betapa banyak dinding atau pojokan yang disulap menjadi tempat buang air, sekalipun di tengah keramaian. Anehnya, mereka tidak merasa malu untuk membuat acara sulapan ini. Diperparah lagi oleh banyaknya debu dan sampah di sepanjang jalan karena tak tersedianya tempat sampah yang memadai. Dibarengi pula dengan tingkat kewarasan masyarakatnya yang rendah yang sangat suka buang sampah di sembarang tempat, sehingga Anda bisa menjuluki Mesir sebagai salah satu kota terkotor di dunia.
Kebanyakan pelajar asing, khususnya Asia, akan merasa sangat terzalimi hidup di Kairo ini, mulai dari sopir taksi yang suka menipu, pedagang yang suka menaikkan harga barangnya jika pembelinya warga asing, dan Anda tidak akan pernah diizinkan memilih barang yang hendak Anda beli. Si penjuallah yang memilihkan, itu pun disertai pandangan yang sinis terhadap Anda. Kenapa “azab” ini harus menimpa kebanyakan pelajar Asia? Ya, karena mereka memiliki postur tubuh yang mungil, tak setara dengan postur tubuh penduduk Kairo.
Selanjutnya jika berbicara lalu lintas, Mesir tidak kalah dengan Jakarta.  Macet, semrawut, serta pedagang kaki lima yang membuka lapak di di sembarang tempat. Di Kairo yang notabene ibu kota negara, sangat sulit bagi Anda untuk menemukan lampu lalu lintas. Jikapun ada, tetap saja harus dijaga polisi, untuk meminimalisir ketidakwarasan masyarakatnya yang suka menyerobot lalu lintas dan tak pernah sabaran untuk menunggu lampu hijau menyala. Simfoni klakson pun menderu-deru. Tak jarang juga kita dapati pengguna jalan yang menyulap jalur dua menjadi jalur tiga, datang dari arah yang berlawanan, sehingga semakin “indahlah” pemandangan kemacetan Kota Kairo ini. Lebih gilanya jika ada kendaraan yang rusak atau bersenggolan ataupun bertabrakan, mereka lebih suka menyelesaikannya di tempat kejadian perkara, pada waktu yang sama, ya di tengah jalan raya. Tanpa ada upaya meminggirkan dulu kendarannya sehingga pengguna jalan lain harus ikut dongkol dan berteriak-teriak agar perkaranya cepat terselesaikan.
Urusan birokrasi dengan instansi pemerintah atau kampus-kampus tak kalah menjengkelkan di kota ini. Sistem yang manual (tulis tangan), kerja yang superlelet, dan kurang menghargai jerih payah orang lain adalah hal biasa. Anda bisa bayangkan betapa dongkolnya Anda, jika sudah antre berjam-jam di hadapan jendela yang hanya berukuran seperempat meter atau lebih kecil lagi, pas tiba giliran Anda berurusan, dengan entengnya mereka berucap, “Silakan datang besok lagi ke sini.” Jika ini negara saya, sudah saya tonjok tuh pegawainya.   
Inilah sedikit dari jutaan fakta mengenai Kota Kairo yang sangat jarang di-publish di media massa. Mudah-mudahan bagi Anda yang akan bertandang ke kota peradaban ini bisa menyiapkan diri sedini mungkin, bagaimana berinteraksi dengan “robot-robot zaman batu” di planet ini. Selamat mencoba. (email penulis: rahmadi_abdurrahman@yahoo.co.id)

Apresiasi Mesir kepada Sastrawan

KETIKA mengikuti mata kuliah Balaghah dan Sastra Arab, saya mendapatkan maklumah baru tentang geliat sastrawan Mesir baik dari masa klasik sampai pada masa modern. Salah satu dari para sastrawan tersebut adalah Najib Mahfud. Najib terkenal dengan  magnum opus (karya sastra terbesar)-nya Khan Khalili. Ia menulis Khan Khalili dengan sangat halus. Khan Khalili yang menjadi pasar tradisonal di sudut Kota Husein mampu menghadirkan nuansa Mesir era Turki Ustmani.
Selain Najib Mahfud ada Abbas Aqad, seorang sastrawan era tahun 20-an. Abbas Aqad terkenal dengan magnum opus-nya berjudul “Sarah” yang menurut Profesor Sangidu, doktor sastra Arab di Universitas Gajah Mada, menjadi salah satu inspirasi Buya Hamka dalam menelurkan novel “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck”.
Abbas Aqad telah meletakkan genre sastra yang lebih modern dibanding sebelumnya, namun walaupun demikian sastra Arab dalam beberapa hal tetap saja tak bisa dilepaskan dari gaya sastra lama,   yakni masa sebelum Islam datang.
Nama Abbas Aqad diabadikan pada nama jalan di salah satu Kota Kairo. Pengabadian nama sastrawan ini setidaknya menjadi tanda bahwa Mesir sangat mengapresiasi para sastrawan. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh sejarah masa silam dua kerajaan besar; Daulah Bani Umayah dan Abbasiyah. Apresiasi dua daulah ini kepada sastrwan sangatlah besar. Para sastrawan selalu diundang oleh sultan untuk membaca syair-syair. Sebagai imbalannya, sultan memberikan mereka upah yang tak sedikit. Beginilah cara para penguasa menghargai para sastrawan. Namun, ketika di akhir-akhir kesultanan Utsmani berkuasa apresiasi ini sedikit berkurang karena Utsmani sendiri lebih mementingkan penyair-penyair lokal, hal ini berakibat pada kejumudan perkembangan sastra di Mesir dan negeri-negeri Arab lainnya.
Bagaimana dengan para sastrawan Aceh? Saya jadi teringat dengan tulisan LK  Ara di facebook yang mengusulkan nama To’et menjadi nama jalan. To’et adalah seorang penyair dari tanah  Gayo yang meninggal beberapa tahun lalu. To’et menjadi salah satu penyair besar Aceh, namun hingga kini langkah-langkah untuk mengapresiasi To’et belum dilihat secara serius oleh pemerintah.
Melalui tulisan ini, kita sangat berharap ada apresiasi besar kepada para sastrawan Aceh di mana penyair harus ditempatkan pada tempatnya sebagai penyair. Ada satu pesan bahwa apresiasi kepada penyair merupakan bagian untuk memajukan tamaddun (budaya) sebuah bangsa. [email penulis: azmi_mali2000@yahoo.com]