Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Budaya Mengalah pada Masyarakat Jepang

SEBAGAI mahasiswi, saat ini saya dan seorang senior saya dari FKIP Biologi Universitas Syiah Kuala (Isratul Izzah) sedang mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa di University of Fukui, Jepang, selama setahun terhitung sejak 27 September 2013, melalui program University of Fukui Student Exchange Program (UFSEP).
Ini merupakan pertama kalinya bagi kami berdua menginjakkan kaki di Negeri Sakura. Terbang sejak 26 September 2013 sore dari Banda Aceh-Jakarta-Denpasar-Osaka (Kansai International Airport/KIX) memakan waktu sekitar sepuluh jam (karena dua kali transit) dan alhamdulillah kami sampai di Osaka pukul 08.15 waktu setempat.
Setiba di Osaka, kami ke luar dari pesawat langsung disambut dengan senyuman ramah petugas bandara. Begitu pula saat di imigrasi dan pengambilan bagasi. Semua mereka membantu dan menyambut kami dengan baik walaupun dengan bahasa Inggris yang terbatas. Ketika kami kesulitan menghubungi pihak University of Fukui melalui telepon umum, kami disapa oleh mahasiswa S3 Osaka University yang bisa berbahasa Indonesia meski terbata-bata. Namanya Aki Tomita. Aki-san menawarkan handphone-nya. Dia bahkan mengantar kami hingga naik kereta menuju Stasiun Fukui. Ini keramahan yang mengesankan.
Di dalam kereta api, setiap petugas yang ingin memeriksa tiket penumpang masuk dengan membungkukkan badan dan tersenyum ramah seraya berkata shitsureishimashita (permisi) ketika masuk dan berkata arigatou gozaimashita (terima kasih banyak) dua kali sebelum meninggalkan gerbong. Kami berdua belum pernah melihat keramahtamahan seperti itu sebelumnya.
Sesampai di gerbang University of Fukui, kami disambut oleh dua orang mahasiswi Fukui (Mayu-san dan Chika-san). Ternyata mereka hanya bisa sedikit berbicara bahasa Inggris, sedangkan kami masih awam dengan bahasa Jepang. Akhirnya, bahasa isyarat pun kami gunakan. Meski demikian, hingga saat ini pun mereka berdua sangat ramah dan selalu berusaha menolong kami ketika berada dalam kesulitan, antara lain, karena keterbatasan kami berbahasa Jepang. Sering kita dengar orang-orang Jepang terkenal dengan ketepatan waktunya dan budaya antrenya. Tapi sebetulnya, orang Jepang juga merupakan komunitasa yang suka mengalah. Hal ini saya alami sendiri dan saya lihat dalam beberapa kejadian sehari-hari. Ketika suatu waktu saya bersepeda dengan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Fukui (Pak I Nyoman Sudiana), tiba-tiba kami berpapasan searah dengan sepeda lain yang dikendarai seorang laki-laki. Saya refleks menghindar, tapi tanpa diduga ternyata laki-laki itu juga menghindar ke arah yang sama. Saya hanya bisa menganggukkan kepala dan berkata gomennasai (maaf). Kemudian Pak Nyoman berkata, “Lain kali kamu jangan menghindar, karena kamu perempuan. Laki-lakilah yang seharusnya menghindar.” Ternyata di Jepang, perempuan, anak kecil, lansia, dan penyandang disability dianggap lemah, maka harus diperlakukan khusus.
Di lain waku kami bersepeda dan terhenti karena ada kereta api yang akan lewat, sementara di samping saya ada mobil dan bus umum. Ketika kereta api sudah lewat dan portal kembali dibuka, sopir busnya mempersilakan kami yang bersepeda untuk lewat duluan.
Pada hari lainnya pun demikian, ketika saya lihat ada mobil dan bus berpapasan ingin jalan, sopir bus berhenti dan mempersilakan mobil itu untuk lewat duluan. Hal-hal di atas jarang saya temui di Indonesia, bahkan di Aceh yang masyarakatnya bertamaddun tinggi.
Sungguh banyak pesan baik yang dapat kita contoh dari bangsa Jepang. Semoga bermanfaat. [email penulis: ms.pocutshaliha@gmail.com]

Rahasia Panjang Umur Orang Jepang

Rahasia Umur Panjang - BILA sedang berkunjung ke Jepang, jangan heran seandainya melihat seorang kakek atau nenek yang berusia delapan puluh tahunan menyeberang jalan sendirian tanpa ada yang dampingi. Tak perlu khawatir terhadap si kakek atau nenek tersebut, karena mereka masih memiliki stamina dan kesehatan yang baik untuk berjalan kaki ratusan bahkan ribuan meter.
Orang Jepang memang dikenal memiliki tingkat kesehatan yang baik, maka tak heran bila rata-rata penduduknya memiliki usia yang panjang. Berdasarkan data PBB tahun 2010, penduduk Jepang memiliki angka harapan hidup tertinggi di dunia, yakni mencapai 82,73 tahun, sementara angka terendah Republik Afrika Tengah, dengan 45,91 tahun. Angka harapan hidup adalah perkiraan lama hidup rata-rata penduduk. Sedangkan penduduk Indonesia berdasarkan hasil proyeksi Sensus Penduduk oleh BPS tahun 2010, diketahui estimasi angka harapan hidupnya adalah 70,9 tahun. Dari data tersebut, provinsi yang memiliki estimasi angka harapan hidup tertinggi yaitu Jakarta yang mencapai 76,2 tahun, disusul kemudian Yogyakarta (76 tahun), dan Sulawesi Utara (74,9 tahun). Sementara penduduk Aceh hanya mencapai 69,3 tahun.
Selain tentunya karena faktor takdir, dari amatan saya selama ini, setidaknya ada tiga faktor yang mendukung orang Jepang bisa menjalani kehidupan lebih lama dari penduduk di negara lainnya. Inilah rahasianya:
 Pola hidup sehat
Sesuai dengan teori ilmu kesehatan, pola makan yang sehat dan disertai dengan aktivitas olahraga yang rutin, akan membuat tubuh menjadi sehat dan memperbesar peluang terhindar dari berbagai penyakit. Dalam hal makan, orang Jepang menyukai makanan yang sehat, berserat, dan segar.

Selain itu jenis makanannya juga cenderung mentah seperti sushi, sehingga mengurangi konsumi bumbu-bumbu dan minyak goreng yang kurang baik untuk tubuh. Mereka sangat membatasi makanan berlemak dan berkarbohidrat tinggi setiap harinya. Pola makan sehat masyarakat Jepang juga didukung dengan kebijakan pemerintahnya yang sangat ketat dalam mengatur dan mengawasi peredaran makanan dan minuman. Hukuman berat siap menanti bagi penjual makanan yang mengandung bahan berbahaya dan di bawah standar kesehatan.
Kegemaran berolahraga menjadikan pola hidup masyarakat Jepang kian sehat. Olahraga seperti jogging merupakan rutinitas dalam keseharian hidup mereka. Selain itu, kebiasaan berjalan kaki jarak jauh saat beraktivitas setiap harinya seperti ke kantor, sekolah, pasar, atau lainnya, diyakini sebagai salah satu penyebab sehatnya orang Jepang.  
Lingkungan yang sehat
Rendahnya tingkat polusi udara di Jepang menjadikan tubuh mendapat pasokan udara yang baik dan bermanfaat untuk kesehatan. Berbagai faktor yang menjadikan polusi udara di Jepang rendah di antaranya penggunaan bahan bakar kendaraan bernilai oktan tinggi, penyediaan lahan terbuka hijau di setiap kelurahan, serta pengawasan yang ketat terhadap gas buang pabrik.

Sedangkan dari sisi masyarakat, budaya menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya, juga sangat mendukung terciptanya lingkungan yang sehat.
 Tingkat stres rendah
Berdasarkan hasil beberapa penelitian yang pernah saya baca, stres dapat menyebabkan efek berbahaya seperti kanker, gangguan imun, penyakit jantung, depresi, dan masalah berat badan. Penyebab stres bisa bermacam-macam, di antaranya kemacetan lalu lintas dan hilangnya rasa aman. Di kota-kota besar yang belum memiliki sarana transportasi umum dan infrastruktur jalan yang baik, kemacetan menjadi masalah yang harus dihadapi setiap hari yang dampaknya bisa berujung pada stres. Selain itu, tingginya angka kriminalitas akan semakin memperparah tingkat stres, karena rasa ketakutan dan waswas sering menghinggapi pikiran.

Bagi masyarakat Jepang, kemacetan dan rasa aman bukanlah suatu masalah yang mengkhawatirkan, apalagi sampai menimbulkan stres. Budaya tertib berlalu lintas dan tingkat toleransi yang tinggi sesama pengguna jalan, menjadikan kemacetan bukanlah hal yang menakutkan. Begitu juga halnya dengan kriminalitas, sifat orang Jepang yang tidak menyukai kekerasan, serta didukung dengan penegakan hukum yang baik, menjadikan Jepang dikenal sebagai negara yang aman dan masyarakatnya jujur.
Memang pada akhirnya usia hidup manusia telah ditentukan oleh Allah, tapi bukankah kita dianjurkan untuk berikhtiar mencari yang terbaik? Jadi, marilah berusaha hidup sehat, terlepas dari panjang atau pendeknya usia kita. 
[email penulis: teuku_m@bi.go.id]


Cara Jepang Menjaga Warisan Sejarah

SELAMA dua minggu di Jepang saya sempat mengunjungi beberapa kota besar dan bersejarah seperti Kyoto, Osaka, Kobe, dan Nara. Sama seperti orang lain yang telah mengunjungi atau tinggal di Negeri Matahari Terbit ini, saya juga kagum pada negara ini. Saya saksikan banyak hal positif yang dimiliki negara dengan gross domestic product (GDP) tertinggi ketiga setelah Amerika Serikat dan Cina ini.
Sama seperti negara maju lainnya, Jepang juga sangat bagus dalam menjaga warisan sejarah. Mereka menginvestasikan berjuta-juta yen untuk merestorasi bangunan-bangunan bersejarah agar tetap berwujud aslinya. Termasuk bangunan-bangunan yang hancur selama Perang Dunia II. Tentu saja tidak sedikit biaya yang dibutuhkan untuk menjaga bangunan-bangunan kuno seperti kastil dan kuil (temple) yang sudah berumur ribuan tahun. Misalnya, Todai-ji Temple yang terletak di kota tua Nara, dibangun tahun 728 Masehi.
Jepang juga sangat tepat dijadikan referensi dalam hal menjaga memori bersejarah. Seperti yang dilakukan oleh Museum Gempa Kobe (Kobe Earthquake Memorial Museum), sehingga masyarakat Jepang dan dunia bisa merasakan bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh dahsyatnya gempa yang melanda Kota Kobe. Kebijakan seperti ini tentu saja didasarkan pada pentingnya menjaga warisan sejarah dan budaya. Tapi kebijakan ini juga membawa berkah ekonomi yang tidak sedikit, karena jutaan turis mancanegara datang ke Jepang setiap tahun untuk mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah ini.
Saya juga kagum pada karakter dan kepribadian masyarakat Jepang yang telah menjadikan negara ini memimpin (leading) dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Mereka sangat disiplin dengan waktu. Kedisiplinan memang merupakan karakter yang paling terkenal dari bangsa Jepang. Kita akan ditingalkan oleh bus, taksi, apalagi kereta api kalau telat beberapa detik saja.
Contoh lain, membuang sampah sudah ada jadwalnya untuk masing-masing jenis sampah. Setiap jenis sampah harus dimasukkan ke dalam kantong dengan warna yang telah ditentukan, kalau tidak maka mobil pengangkut sampah tak akan mengambilnya. Kedengarannya sederhana, tapi tentu saja tak mudah dilakukan oleh semua orang karena berhubungan dengan perkerjaan yang terus berulang. 
Saya juga menyaksikan mereka sangat disiplin dalam berlalu lintas. Tak akan kita temukan pengendara yang menerobos lampu merah atau mengendarai kendaraan di jalur yang salah. Pengendara tetap mengendari sepedanya di jalur yang disediakan. Demikian juga dengan masalah parkir, sulit kita temukan kendaraan yang parkir secara liar.
Perihal berlalu lintas ini memang telah diajarkan sejak TK karena pendidikan dasar di Jepang lebih ditekankan pada perkembangan sikap dan mental daripada kemampuan inteligensia. Jadi, kita tak perlu heran bus yang dipenuhi oleh anak-anak muda tetap saja sunyi. Mereka tidak ribut, karena sudah paham orang lain di bus akan terganggu dengan sikap dan tingkah laku mereka. Apalagi yang merokok, sudah pasti tak ada yang nekat melakukannya di bus.
Dari semua itu, yang paling saya kagumi dari Jepang adalah ternyata mereka tidak kapitalis. Memang benar ada begitu banyak perusahaan Jepang yang menguasai bisnis tertentu di sebuah negara bahkan di dunia. Di Indonesia saja, begitu banyak perusahaan Jepang yang ikut andil dalam bisnis seperti migas, otomotif, dan elektronik. Bahkan perusahaan Jepang juga terlibat dalam bisnis retail dan restoran seperti Lawson, 7 Eleven, dan Hanamasa. Perusahaan-perusahaan Jepang ini sangat mudah ditemukan di kota-kota besar bahkan kecil di Indonesia. Di negara kita sangat mudah dijumpai perusahaan-perusahaan multinasional, hampir merata dibuka cabangnya di seluruh Indonesia. Kita tentu saja tak asing lagi dengan KFC, Pizza Hut, dan McDonald.
Tapi ternyata ketika saya susuri jalan-jalan utama di kota besar Jepang seperti Osaka dan Kyoto, sangat sulit ditemukan merek-merek internasional seperti KFC, McDonald, Pizza Hut, Carrefour, apalagi merek-merek asal Indonesia. Sepanjang jalan yang saya temukan adalah restoran dan retail asli Jepang yang menjual produk asli Jepang. Di sini juga sangat sulit kita temukan merek-merek seperti BMW, Mercedes, dan Ford. Mereka hampir semuanya mengunakan mobil yang di produksi negerinya sendiri. Tentu saja hal ini berbeda dengan negara kita. Semua bangga menggunakan produk impor.

Memang banyak sekali hal menarik yang bisa dieksplor dan dipelajari dari Jepang. Negara ini memang layak dijadikan contoh dan dikagumi walaupun tentu saja tidak dengan membabi buta, karena ada juga banyak hal yang tidak sesuai dengan karater budaya kita. Tentu saja tak usah dicontoh kebijakan mereka yang satu ini, jalanan mereka bebas dari sepeda motor, tetapi mereka gencar sekali menjual produk ini di negara-negara berkembang, seperti Indonesia. [email penulis:  irsyadillah@yahoo.co.uk]

Taman Favorit Steve Jobs

SAAT ini saya sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Osaka University setelah lulus seleksi oleh Pusat Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik Unsyiah bekerja sama dengan Osaka School of International Public Policy (OSIPP) Osaka University.
Desain dan kultur Jepang ternyata berpengaruh besar pada kehidupan Steve Jobs, wirausahawan Amerika, penemu dan visioner yang merupakan salah seorang pendiri Apple Inc. Betapa ia sangat menikmati berjalan di taman-taman Kyoto, sebagaimana dinukilkan dalam biografi Steve Jobs yang meninggal pada Oktober 2011.
Prefektur Kyoto adalah sebuah prefektur (provinsi) di wilayah Kansai pada Pulau Honsu, terletak di tengah-tengah Jepang. Ibu kotanya Kyoto. Kyoto merupakan bagian dari daerah metropolitan Osaka-Kobe-Kyoto. Pernah jadi ibu kota Jepang selama lebih dari ribuan tahun sehingga banyak peninggalan kuil-kuil, istana, taman, dan arsitektur lainnya yang dikenal paling terjaga di Jepang.
Taman-taman Jepang dibangun dengan gaya tradisional Jepang. Prinsip dasar taman Jepang adalah miniaturisasi dari pemandangan alam empat musim di Jepang. Elemen dasar seperti batu-batu dan kolam dipakai untuk melambangkan lanskap alam berukuran besar.
Saya berkunjung ke salah satu taman tersebut, yaitu Ginkaku-ji (Kuil Paviliun Perak). Kuil ini dibangun tahun 1482 sebagai sebuah vila pedesaan di kaki bukit Higashiyama oleh Shogun Ashikaga Yoshimasa (Shogun kedelapan dari periode Muromachi). Ginkaku atau Paviliun Perak merupakan bangunan utama dari Ginkaku Temple yang memiliki dua lantai. Lantai pertama dibuat dengan gaya arsitektur perumahan Jepang dan lantai kedua dibuat dengan gaya Cina di mana terdapat jendela dan pintu geser bergaya Cina.
Di sekeliling Ginkaku, terdapat taman yang sangat indah. Di tengahnya ada kolam bernama Kinkyo. Kolam ini dikelilingi taman seperti lazimnya taman tradisional Jepang. Di dalam taman terdapat pula taman pasir bernama Ginshadan dan gundukan pasir bernama Kogetsudai melambangkan Gunung Fuji. Keduanya dibangun sejak akhir zaman Edo. Kolam dan pohon-pohonnya terawat baik. Keindahan alam pada setiap musimnya diadaptasikan dengan terampil di taman tersebut.
Di belakang Ginkaku Temple terdapat pula bukit Higashiyama. Kita dapat berjalan hingga ke atas bukit tersebut, melewati tanaman momiji (maple Jepang) yang sedang berubah warna pertanda musim gugur; menikmati panorama spektakuler dari Ginkaku Temple dengan latar belakang Kota Kyoto.
Ketenangan dan keindahan Kyoto ini telah menjadikannya sebagai tempat favorit Steve Jobs untuk berkunjung. Hampir setiap tahun ia mengunjungi Kyoto. “Hal yang paling indah yang pernah aku lihat adalah taman-taman di sekitar Kyoto. Saya sangat tersentuh oleh kultur yang telah membuat itu semua,” katanya.
Dari kesederhanaan dan keindahan Kyoto itulah ia mendapatkan inspirasi untuk membuat produk Apple. Produk yang sederhana tetapi memiliki desain dan teknologi yang revolusioner, intuisi, visi, perhatian terhadap detail. Sebuah aturan dasar Steve Jobs yaitu selalu menyederhanakan sebanyak mungkin segala hal; menghilangkan hal-hal yang tidak dibutuhkan. iPod contohnya, sederhana, indah, dan desain yang intuitif menjadikannya produk yang revolusioner pada saat dirilis. Selain itu, warna putih salju pada produk Apple terinspirasi dari warna tatami, tikar Jepang yang digunakan di rumah-rumah bergaya Jepang. “Menggunakan sebuah produk Apple bisa sama indahnya seperti berjalan di salah satu taman di Kyoto,” begitulah digambarkan dalam biografi Steve Jobs.
Melalui Apple, ia dikenal luas sebagai pelopor revolusi perangkat komputer. Ia merevolusi industri dari komputer dan telepon genggam hingga musik dan perfilman. Saat ini Apple merupakan perusahaan paling bernilai di dunia berdasarkan laporan tahunan Interbrand.
Ia juga salah satu pendiri Pixar Animation Studios, perusahaan yang membidani pembuatan animasi, merevolusi dunia perfilman, khususnya animasi dengan memperkenalkan film panjang dengan animasi komputer pertama di dunia.
Steve Jobs meninggal tahun 2011. Dunia kehilangan seorang visioner dan jenius kreatif. Ketika diundang oleh Universitas Stanford untuk memberikan pidato kelulusan mahasiswa tahun 2005, Steve Jobs memberikan pidato yang sangat luar biasa dengan bahasa yang indah, terstruktur, dan penuh dengan kedalaman filosofi, namun mencuatkan semangat hidup. Ia menginspirasi banyak mahasiswa di sana. Di akhir pidatonya ia menutup dengan kata-kata “Stay hungry. Stay foolish.” (Jangan pernah puas. Selalulah merasa bodoh).

Cara Warga Kyoto Menjaga Budayanya

SEBULAN lebih sudah saya berada di Kota Osaka, Jepang, untuk mengikuti Program Peace and Human Security in Asia (PAHSA) di Osaka School International Public Policy, Osaka University yang bekerja sama dengan Pusat Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Syiah Kuala (Usnyiah) Banda Aceh. Awal minggu ini saya sempatkan diri mengunjungi beberapa tempat selepas kuliah. Salah satunya adalah Kota Kyoto.
Kyoto terletak sekitar 40 kilometer dari Osaka. Saat ke Kyoto tak perlu khawatir bakal terjebak macet, karena bisa ditempuh hanya sekitar 45 menit menggunakan kereta api.
Kota yang terletak di Prefektur (setingkat provinsi) Kyoto ini terkenal dengan budaya tradisional yang kental dan masih banyak terdapat rumah tradisional Jepang yang dirawat dengan sangat baik.
Kyoto dulunya dikenal sebagai ibu kota Jepang sebelum Tokyo. Saat berkunjung ke Kyoto, saya berkesempatan menyaksikan festival yang diadakan setahun sekali. Festival yang bahasa Jepangnya matsuri, memang sering diadakan dan menarik minat para turis mancanegara. Festival yang saya saksikan ini bernama Jidai Matsuri yang dinamakan juga dengan Festival of Ages. Dalam acara ini ditampilkan pakaian sehari-hari masyarakat dan warga Kerajaan Jepang, juga kaum samurai. Dimainkan pula musik yang menjadi ciri khas pada setiap zaman (era) di Jepang.
Festival yang diadakan di salah satu jalan raya Kota Kyoto ini diikuti hampir 2.000 orang yang memperagakan pakaian lengkap dengan senjata yang biasa digunakan pada masing-masing era. Apa yang ditampilkan itu sungguh membuat saya terpana, terutama dengan pakaian samurai yang dipakai ketika hendak terjung ke medan perang.
Sungguh senang rasanya pakaian yang selama ini hanya saya tonton di televisi maupun internet, kini bisa saya lihat langsung. Pakaian ini, menurut saya, sederhana, namun terlihat mewah dan kokoh.
Selama di Kyoto saya juga berkunjung ke Kiyomizu-dera dan tempat lain, seperti rumah pertunjukan untuk menyaksikan tarian maupun penampilan yang digelar setiap hari tertentu untuk para turis.
Jangan heran jika Anda berkunjung ke sini mendapati banyak warga Jepang yang mengenakan pakaian tradisional mereka. Saya sempat bertanya kepada seorang warga Jepang yang mengenakan pakaian tersebut di Kyoto. Dia jawab bahwa dia lebih merasakan suasana Kyoto ketika memakai yukata, nama pakaian tradisional tersebut. Turis jika mau, juga diperkenankan memakai yukata untuk sesi pemotretan.
Satu hal penting yang saya cermati di kota ini bahwa masyarakatnya sangat serius menjaga budayanya, sehingga bisa mereka wariskan utuh ke generasi berikutnya.

Mendadak saya teringat Aceh, kampung halaman saya yang juga sangat tinggi peradaban dan nilai budayanya. Sebagai warga Aceh, kita harusnya juga mampu menjaga dan melestarikan budaya dan tempat-tempat bersejarah yang kita punya, tak terkecuali benda-benda yang termasuk dalam lingkup cagar budaya. Semoga. [email penulis: meugatindra@ymail.com]

Kotatsu, Cara Jitu Mengusir Dingin

Musim dingin telah tiba, Prefecture (Provinsi) Fukui merupakan salah satu daerah di Jepang yang terkenal memiliki ketebalan salju yang tinggi dan sangat dingin, selain Prefecture Ishikawa, Toyama, dan Nigata. Bahkan saya dengar ada juga yang menyebutnya sebagai Hokkaido kedua. Hal ini disebabkan letaknya yang berada di sebelah barat Jepang menghadap laut jepang dan dikelilingi oleh pegunungan.
Ketika musim gugur akan berakhir, warga Jepang mulai mempersiapkan pakaian hangat, sepatu boots, penghangat badan (kairo), termasuk juga saya sebagai mahasiswa internasional yang sedang studi di Jepang. Ini juga merupakan musim dingin pertama bagi saya. Ketika berbincang-bincang dengan teman-teman dari negara lain maupun Jepang mengenai apa yang biasa mereka lakukan ketika musim dingin tiba, banyak hal menarik yang justru baru saya ketahui. Kebanyakan dari mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sambil makan makanan hangat, seperti sup. Teman-teman dari internasional mengatakan bahwa musim dingin di Jepang dan di negara mereka berbeda. Di negara mereka ketika musim dingin tiba hanya di luar ruangan saja dinginnya, namun ketika masuk ke dalam sangat hangat, sedangkan di Jepang dingin di luar, juga dingin di dalam. Ini karena sistem ventilasinya yang dibuat berbeda.
Di Jepang sendiri ketika musim dingin tiba, mereka senang mengadakan makan-makan bersama seperti makan nabe, oden, atau sukiyaki. Ketinganya adalah makanan sejenis sup dengan isi macam-macam sayuran dan daging. Ramen juga salah satu makanan favorit mereka. Cuma, kita yag muslim tidak boleh makan, karena di dalam kuah kaldunya terdapat babi, meskipun ada yang menjual tidak memakai babii, namun sangat susah dijumpai.
Hal menarik lainnya adalah mereka senang menghabiskan waktu dalam kotatsu ketika musim dingin tiba. Kotatsu adalah sebuah meja dengan pemanas di bawahnya dan sebuah selimut tebal dan hangat yang menutupi meja tersebut. Kotatsu dapat menjaga kaki kita agar tetap hangat dengan cara memasukkan kaki kita ke dalam bagian bawah kotatsu. Kotatsu tidak membutuhkan banyak energi. Dulunya pemanas kotatsu menggunakan tenaga arang, sekarang sudah memakai listrik. Ketika teman saya bercerita yang terbayang di benak saya langsung seperti film kartun Jepang dan saya sudah bisa membayangkan bagaimana hangatnya. Namun, teman saya bercerita sambil tertawa, “Ibu saya tidak membolehkan saya punya kotatsu di apartemen, karena itu membuat saya tidak mau beranjak dan akhirnya tidak pergi kuliah. Dulu waktu saya masih sekolah ibu saya selalu berusaha menjauhkan saya dari kotatsu untuk pergi sekolah. Kotatsu di musim dingin itu ‘surga’ sekaligus ‘neraka’,” ungkapnya.
Beberapa teman Jepang lainnya pun membenarkan. Kenyamanan di bawah kotatsu bisa membuat mereka malas untuk beranjak. Tidak semua orang Jepang memiliki kotatsu, meski sangat berguna di musim dingin, namun mereka takut itu membuat mereka malas, sehingga mereka memilih memakai pemanas ruangan (hitter) saja.

Kehidupan Orang Jepang

ALHAMDULILLAH, saya berada di Jepang 21 hari mengikuti Program Asian Youth Summit yang digagas JAFF, sebuah lembaga nonprofit. Program ini berlangsung seminggu di Nara, sebuah kota di Jepang. Selebihnya saya gunakan waktu untuk menikmati suasana Jepang.
Ke banyak tujuan saya berjalan kaki bersama Sarah Jumalia, guru bahasa Jepang di Kougetsu School, sekolah nonpemerintah yang fokus pada pembelajaran bahasa Jepang dan bahasa Inggris secara gratis. Kami juga ditemani Wina, kakaknya Sensei Sarah yang sudah lama tinggal di Jepang. Beliau banyak sekali tahu budaya dan tempat-tempat menarik di Jepang.
Kami juga berkunjung ke Kyoto. Kota ini terkenal sekali dengan kuil-kuil yang indah. Awalnya kami berjalan kaki selama 15 menit dari rumah Sensei Wina di Kyoto. Ternyata berjalan kaki lebih banyak dilakukan orang Jepang baik tua maupun muda. Terlebih lagi biaya parkir di sini sangat mahal. Hal itu sungguh sangat berbeda dengan kehidupan masyarakat Aceh. Bila kita melihat, hampir semua orang kita menggunakan kendaraan yang tentu saja sepanjang jalan macet. Namun, para pejalan kaki di Jepang seperti sudah sangat menikmatinya. Terasa ringan dan tak menjadi beban sama sekali.
Mereka berjalan dengan langkah cepat. Saya sendiri merasa kewalahan ketika mencoba berjalan bersamaan dengan orang Jepang. Bahkan saya seperti berlari mengejar mereka. Budaya berjalan kaki pada dasarnya sangat menyehatkan, membuat kekuatan kaki senantiasa terlatih dan terhindar dari rasa malas. Ketika badan berkeringat, tubuh akan menjadi sehat. Di sisi lain, berjalan kaki dapat mengurangi kemacetan, hemat biaya transportasi, mencegah polusi,  dan menyehatkan badan.  
Saya sempat terpikir, kapan kebiasaan ini dapat diwujudkan di Aceh kita tercinta? Selama 21 hari berada di Jepang, sungguh banyak saya temui budaya hidup teratur di sana. Waktu sangat berharga bagi orang Jepang. Suatu ketika kami melakukan perjalanan dari Kyoto ke Osaka. Perjalanannya lumayan jauh, karena antarkota, jadi kami mengambil alternatif dengan menumpangi bus. Ketika itu saya perhatikan sebuah kertas yang tertempel di tiang halte itu, ternyata itu adalah jadwal bus yang telah diatur sedemikian rupa. Tertulis bus yang sedang kami tunggu itu akan tiba tepat pukul 12.13. Sempat terlintas di benak saya, mungkin saja angkutan itu akan tiba pukul 12.15 atau beberapa menit lebih telat dari itu, karena namanya saja kendaraan umum, pasti akan telat karena menunggu penumpang atau lain sebagainya. Ternyata, bus itu benar-benar tiba tepat pada jam yang telah tertulis di jadwal. Sungguh, selama saya mengenal angkutan umum di Aceh tak ada yang jam ketibaannya tepat waktu seperti di Jepang.
Begitu juga dengan soal kebersihan, setiap kali saya lakukan perjalanan di setiap kota di Jepang, seperti Tokyo, Osaka, Kyoto, Nara, Hiroshima, dan Wakayama, tak sekalipun saya dapati sampah yang dibuang sembarangan. Bahkan seluruh sudut kota terlihat begitu bersih. Memang orang Islam yang selalu mendengar dan menghafal hadis “annadhafatu minal iman (kebersihan itu sebagian dari iman)”, tapi yang konsisten mempraktikannya justru bukan kita yang muslim.
Orang-orang di Negeri Matahari Terbit ini juga memilah-milah sampah menurut jenisnya, baik itu sampah sisa makanan, botol, kaleng, dan kertas di tempat yang berbeda. Mereka melakukannya dengan sukarela. Jadi, seluruh tempat menjadi bersih, bahkan sepuntung rokok pun tidak tercecer di sembarang tempat karena telah disediakan ruangan atau tempat khusus bagi mereka yang ingin merokok.
Saya juga ingin ceritakan pengalaman saya hidup bersama orang Jepang. Kebanyakan orang berpendapat bahwa orang Aceh itu sangat sopan dan ramah. Namun, orang Jepang jauh lebih sopan dan ramah. Mereka sangat menghargai tamu dan memperlakukannya dengan baik. Selama 12 hari saya homestay di rumah orang tua angkat saya, mereka perlakukan saya layaknya keluarga sendiri. Bahkan saya merasa seperti tinggal dengan orang tua kandung. Saya tidak dianggap asing dalam keluarga ini walau baru saling kenal. Saya pribadi tidak dapat berbahasa Jepang karena yang saya pelajari di tempat kursus selama ini ialah bahasa Inggris. Sementara ibu angkat saya tak bisa berbahasa Inggris. Namun, ketika kami berkomunikasi tidak susah sama sekal. Kami tetap berbicara banyak hal dan seperti saling mengerti apa yang sedang kami bicarakan. Tak jarang ibu angkat saya menggunakan kamus elektronik di sela-sela pembicaran. Saya merasa sangat bahagia saat itu saya menyadari bahwa bahasa yang paling universal di dunia ini adalah bahasa tubuh. Allah memang menciptakan beragam bahasa di dunia ini. Namun, bahasa tubuhlah yang paling mudah dipahami oleh semua orang. [email pengirim: hendrakasmi@yahoo.co.id]

Janji Bertemu di Stasiun Kereta Api

TOKYO merupakan salah satu kota yang memiliki pelayanan transportasi publik terbaik di dunia. Dengan predikat sebagai kota metropolitan yang termasuk jajaran kota terpadat di dunia, ketersediaan transportasi publik mutlak diperlukan untuk menyokong aktivitas keseharian warga Tokyo dan sekitarnya.
Salah satu moda transportasi andalan warga Tokyo adalah kereta api. Jalur (line) kereta api di Tokyo berjumlah lebih dari 50 line yang dikelola oleh 16 perusahaan kereta api. Jalur terbanyak dengan jumlah 36 line dimiliki oleh Japan Railway (JR) East Company, sebuah grup perusahaan kereta api terbesar di Jepang.
Sistem perkeretaan api bawah tanah (subway) di Tokyo tercatat sebagai jalur terpadat di dunia dalam hal jumlah penumpang. Berdasarkan data wikipedia dan beberapa sumber lainnya, pada tahun 2010 saja jumlah penumpang Tokyo Subway mencapai 3,16 miliar orang. Ini menempati peringkat pertama di atas Beijing Subway (2,18 miliar orang) dan New York City Subway (1,64 miliar orang). Tokyo juga memiliki salah satu stasiun tersibuk di dunia, yaitu Shinjuku Station. Rata-rata setiap harinya ada 3,64 juta orang yang memadati Stasiun Shinjuku, melebihi kepadatan penumpang di stasiun kereta api terbesar di dunia, New York’s Grand Central Terminal.
Bila Anda dari Aceh sedang di Tokyo, hindarilah membuat janji pertemuan di stasiun yang memiliki lebih dari 200 pintu exit ini, karena dapat menyulitkan dan membingungkan, terutama bagi para pendatang.
Kepadatan penumpang kereta api di Tokyo biasanya terjadi pada hari kerja, antara pukul 8-9 pagi. Sedangkan pada hari libur, kepadatan penumpang hanya terjadi di beberapa stasiun yang terletak di daerah pusat keramaian seperti Shinjuku, Shibuya, dan Harajuku. Bila menggunakan kereta pada jam-jam sibuk, kita akan merasakan bagaimana kepadatan penumpang yang menyebabkan tubuh kita terdorong ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang oleh penumpang yang akan naik maupun turun.
Cara penumpang yang akan naik ke kereta juga tergolong unik. Mereka akan memutar badannya sesaat setelah naik ke kereta, sehingga posisi tubuhnya akan menghadap ke pintu kereta, dan membelakangi penumpang yang ada di dalam kereta. Setelah itu mereka akan mendorong ke belakang, sehingga penumpang yang ada di dalam kereta akan semakin padat mengisi celah-celah bagian dalam gerbong yang masih tersisa.
Kadang di stasiun tertentu, padatnya jumlah penumpang membuat petugas stasiun turun tangan untuk mendorong penumpang yang berjejal di pintu kereta, agar bisa masuk ke dalam kereta, karena pintu kereta akan tertutup. Hal ini dilakukan oleh petugas agar kereta dapat segera jalan, karena kereta berikutnya akan segera tiba di stasiun tersebut.
Menariknya lagi, meski kepadatan penumpang tersebut menimbulkan dorong-mendorong, bahu yang bersenggolan, bahkan ada kaki yang terinjak, namun tidak ada penumpang yang kesal, marah, ataupun bertengkar dengan penumpang lainnya.
Selain itu, dalam suasana kepadatan penumpang yang hiruk pikuk tersebut, para penumpang tetap disiplin mengantre di jalur pintu masuk kereta yang telah disediakan.
Kepadatan penumpang di dalam kereta juga tidak menimbulkan terjadinya kasus pelecehan seksual maupun pencopetan. Sebuah contoh sikap islami yang diaplikasikan oleh bangsa nonmuslim. 
[email penulis: teuku_m@bi.go.id]

Tanda Tangan Orang Jepang

SELAMA ini apabila mendengar kata tanda tangan, maka yang terbayang dalam pikiran saya adalah sebuah coretan tangan yang dibuat dengan bentuk dan gaya tersendiri, dijadikan sebagai bukti identitas seseorang yang umumnya dibubuhkan dalam dokumen penting dan surat berharga.
Ternyata konsep mengenai tanda tangan yang selama ini saya pahami belum sepenuhnya benar, karena di Jepang saya temukan hal yang sama sekali berbeda dengan kebiasaan orang Asia umumnya. Bila biasanya kebanyakan orang akan menggunakan tangannya untuk membuat guratan tanda tangan, orang Jepang justru menggunakan sebuah stempel sebagai tanda tangannya.
Stempel tanda tangan yang dalam bahasa Jepang disebut hanko ini, bertuliskan nama seseorang dalam huruf Jepang (kanji/hiragana), dan terbuat dari kayu atau plastik. Bentuk hanko ada yang bulat dan kotak, sesuai dengan peruntukan dan keinginan si pemilik tanda tangan. Hanko dengan bentuk bulat memiliki ukuran kurang lebih sebesar uang koin dua puluh lima rupiah, sementara hanko berbentuk kotak memiliki ukuran sekitar 3 x 3 cm.
Idealnya, orang Jepang akan memiliki tiga jenis hanko yang dalam bahasa Jepang disebut mitome ink, ginko ink, dan jitsuin. Perbedaan ketiganya terletak dari segi peruntukan penggunaan hanko tersebut. Mitome ink merupakan hanko yang digunakan dalam keseharian dan bersifat umum. Di antaranya untuk menandatangani tanda terima kiriman surat/barang, absensi daftar hadir, dan dokumen lainnya yang tidak terlalu penting. Ukuran hanko mitome ink adalah yang paling kecil bila dibandingkan dengan kedua jenis hanko lainnya.
Jenis hanko berikutnya adalah ginko ink, digunakan khusus untuk bertransaksi dengan bank, seperti pembukaan rekening, penarikan uang, dan pinjaman dengan jumlah yang kecil. Ginko dalam bahasa Jepang berarti bank. Ukuran hanko ini medium, yaitu lebih besar dari mitome ink, dan lebih kecil dari jitsuin.
Selanjutnya hanko yang ketiga adalah jitsuin, merupakan hanko yang digunakan untuk dokumen penting dan sangat formal. Di antaranya kontrak kerja antarperusahaan, pinjaman bank dalam jumlah besar, dan dokumen penting lainnya yang memiliki risiko hukum yang tinggi bagi si pemilik hanko.
Jitsuin dikenal sebagai hanko yang terdaftar, karena semua jitsuin harus didaftarkan di kuyakusho (ward office), kantor pemerintahan di Jepang yang kurang lebih setingkat kecamatan. Mengingat pentingnya hanko jitsuin, si pemilik biasanya akan menyimpannya dengan sangat baik di tempat yang tidak diketahui orang lain, bahkan kadang termasuk oleh anak dan istrinya. Dari sisi bentuknya, selain dalam hal ukuran, perbedaan dari ketiga jenis hanko juga terletak pada design/lay out tulisan nama si pemilik hanko, meskipun menggunakan huruf yang sama.
Tapi tidak semua orang Jepang memiliki ketiga jenis hanko tersebut, terutama hanko jitsuin, sebab sangat tergantung pada kebutuhan mereka.
Untuk memiliki hanko, semua orang dapat memesannya di toko khusus pembuat hanko, dengan masa pembuatan relatif singkat, hanya beberapa hari. Harga pembuatan hanko bervariasi, tergantung jumlah dan tingkat kesulitan hurufnya. Khusus untuk hanko mitome ink, dapat dibeli dalam bentuk sudah jadi yang dijual di beberapa toko buku dan minimarket. Namun, hanko yang dijual tersebut hanya untuk nama-nama yang umum digunakan oleh orang Jepang, seperti Takeshi, Hasegawa, Michiko, dan lainnya.
Sistem tanda tangan menggunakan hanko ini bila dicermati terlihat memiliki risiko timbulnya penyalahgunaan berupa pemalsuan hanko. Bila tanda tangan yang terbuat dari guratan tangan saja risiko pemalsuannya sudah cukup besar, apalagi bila hanya menggunakan stempel yang pembuatannya dapat dilakukan oleh siapa saja, dan di mana saja.  Tapi ternyata, hal itu tidak terjadi di Jepang. Budaya jujur yang selama ini identik dengan karakter masyarakat Jepang, menjadikan potensi risiko pemalsuan hanko menjadi sangat kecil, bahkan bisa dibilang tidak pernah terjadi. [email penulis: teuku_m@bi.go.id]