Tampilkan postingan dengan label Thailand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thailand. Tampilkan semua postingan

Pesta Nikah di Narathiwat Thailand

RATUSAN kursi plastik warna biru disusun di halaman rumah. Setiap kursi ditata melingkari sebuah meja bundar. Per meja ada enam kursi. Sedikitnya, ada empat tenda teratak yang memayungi kursi-kursi itu. Semua dipersiapkan untuk menyambut tetamu.
Di samping kanan rumah terdapat sebuah tenda lainnya, tempat kaum ibu berkumpul. Ada yang mengupas bawang, mengiris timun, mengelap piring, dan sebagainya. Di rumah itu akan ada pesta nikah (walimah ursy). Pesta sederhana dengan adat Melayu di Sempadan Selatan Thailand. Warga setempat menyebutnya dengan adat Melayu Patani.
Segala persiapan kenduri dilakukan secara tradisional. Pelakon kerjanya adalah orang-orang kampung, tua muda, laki dan perempuan. Kerja tuan rumah hanya menerima laporan dari orang-orang kampung yang bekerja. Laporan itu, antara lain, semisal kelapa masih kurang, pisau belum cukup, dan lain-lain. Singkatnya, tuan rumah adalah penyedia segala kebutuhan. Yang bekerja adalah orang kampung.
Sehari sebelum pesta, gotong royong (Aceh: meuseuraya) oleh orang-orang kampung sudah tampak. Begitu pula malamnya. Sekumpulan bapak-bapak berkumpul di tempat yang telah disediakan. Di sana, mereka mencincang daging lembu yang sudah disembelih.
Sebagian orang bertindak memotong tulang-tulang lembu tersebut, sebagian lainnya mencincang daging, dan sebagian lain memanaskan air. Beberapa orang memang tampak duduk-duduk saja. Ia perhatikan kerja orang-orang yang mencincang daging lembu tersebut hingga tiba giliran menggantikan yang sudah lelah. Memasak jadi tugas kaum ibu. Esoknya, sebagian masakan tinggal dipanaskan saja.
 Nasi bungkus
Nasi yang sudah dimasak dibungkus dengan plastik gula 2 kg. Nasi bungkus itu diletakkan di atas talam bersama enam buah piring. Umumnya, satu talam ada tiga bungkus nasi. Nasi-nasi itulah yang dihidangkan untuk tetamu dan undangan. Setiap tamu akan menuangkan nasi dari bungkus plastik ke dalam piringnya. Satu plastik cukup untuk dua orang. Jika mereka butuh nasi tambah atau ada sesuatu lainnya yang masih kurang, tetamu boleh meminta lagi.

Bertindak sebagai tukang angkat dan hidang nasi serta kuah ke hadapan tamu-tamu adalah kelompok anak muda laki-laki.
Hal yang tidak pernah ketinggalan dalam talam lauk adalah timun dan sambal terasi. Bagi orang Melayu Patani, timun dan sambal terasi adalah lalap yang mesti ada. Tak hanya di rumah kenduri, di warung-warung nasi sepanjang jalan pun selalu disiapkan timun dicicah bersama sambal terasi. Makanan ini jadi salah satu khas tiga daerah dalam wilayah Patani: Narathiwat, Pattani, dan Yala.
Selain itu, yang menjadi khas tiga daerah ini adalah namplau. Namplau merupakan es kosong di dalam gelas. Musim hujan maupun kemarau, setiap gelas untuk tetamu akan diberi es kosong. Adapun air putihnya sudah disediakan dalam ceret di atas meja. Tetamu tinggal menuangkan air putih ke dalam gelas mereka.
Jika makanan khasnya adalah timun dan sambal terasi, boleh dikatakan pula bahwa minuman tradisional daerah ini adalah namplau. Nyaris setiap tempat, namplau dan mentimun selalu ada.
Penganan lainnya yang tidak ketinggal di rumah-rumah kenduri adalah pulut. Selain pulut kuning, di sini juga disediakan pulut cokelat yang rasanya sangat manis. Pulut kuning biasanya dihidangkan bersama ikan sambal lado. Orang akan menyantap pulut kuning itu seperti makan nasi, dengan lauknya ikan sambal lado.
Hidangan ini biasanya untuk pagi hari. Jikapun dihidangkan siang atau malam, biasanya untuk cuci mulut. Demikian pagi pesta itu. Rombongan pengantin lelaki (lintô barô) sampai di rumah dara barô pagi-pagi sekali. Akad nikah dilangsungkan di rumah dara barô. Bersama lintô barô hadir imam, kepala kampung, orang tua/wali. Ijab qabul dilafazkan oleh lintô kepada orang tua dara baro. Adapun dara barô masih disembunyikan dalam kamar.
Selepas akad nikah, rombongan kecil lintô barô disuguhi pulut kuning. Selesai makan pulut kuning, rombongan lintô pulang ke rumah/kampungnya. Ia kembali ke rumah dara barô menjelang makan siang, bersama rombongan yang lebih besar. Saat itu pula, tetamu dan undangan dari pihak mempelai perempuan berdatangan.
Pelaminan yang dihiasi bunga-bunga kertas sekeliling, diletakkan di luar rumah. Tak ada tempat duduk. Pelaminan itu hanya dibuat untuk berdiri bersalaman. Di sanalah kedua pengantin berfoto bersama sanak famili.
Sebagai adat Melayu, satu hal yang tak tampak hari itu, hanyalah berbalas pantun. Mungkin saja di rumah itu tak ada ahli pantun atau memang disepakati oleh pihak keluarga tak perlu agenda balas pantun.
Terlepas dari itu semua, seremonial adat pernikahan dan adat pesta di sana tidak jauh berbeda dengan di Aceh. Hanya saja, di Aceh kegiatan meuseuraya di rumah-rumah orang walimah sudah mulai luntur seiring masuknya hidangan ala prasmanan. Beda lainnya, mahar yang digunakan di Patani bukan emas, melainkan uang tunai. Demkianlah.
[email penulis: hermanrn13@gmail.com]

Sumalee di Thailand, Meuligoe Wali di Aceh

SEMULA, kedatangan saya ke Thailand adalah untuk riset Jurnalisme SMS. Praktik jurnalisme ini menjadikan masyarakat bak wartawan sekaligus penikmat berita yang menulis, menyunting, serta mendiseminasikan segala peristiwa yang mereka lihat melalui fitur layanan pesan singkat (SMS). Atas dukungan USAID, Kemitraan, dan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), saya bersama sejumlah teman sedang mengembangkan Jurnalisme SMS menjadi satu sistem pemantauan pelayanan publik di Sumatera dan NTT.
Selama di Thailand, saya juga menemukan satu cerita lain yang terkait isu pelayanan publik. Adalah Sumalee Limpa Owart, seorang ibu rumah tangga, pemilik cerita itu. Putri kesayangannya dinyatakan tak lulus ujian masuk Demonstration School, sekolah favorit Thailand di bawah binaan Universitas Kasetsart. Padahal, menurut Sumalee, sang anak mampu menyelesaikan soal ujian dengan baik. Permintaannya untuk melihat hasil ujian masuk ditolak pihak sekolah.
Berbekal Official Information Act (OIA) 1997--layaknya Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) kalau di Indonesia--Sumalee pun mengajukan gugatan kepada Official Information Commission (OIC)  agar Universitas Kasetsart membuka nilai seluruh siswa yang dinyatakan lulus. OIC adalah lembaga yang didirikan Pemerintah Thailand untuk memberi jaminan rakyat mendapatkan informasi publik.
Rektor Kasetsart menolak permintaan Sumalee dengan alasan universitas harus memperoleh petunjuk lebih dulu dari instansi pemerintah terkait. Kata rektor, harus menunggu izin dari Menteri Urusan Universitas dan Kejaksaan Agung. Keengganan rektor berbuah perdebatan berlarut, malah menjadi agenda nasional dan rapat kabinet. OIC bahkan harus membentuk Information Disclosure Tribunal (IDT) for Social Information untuk menuntaskan hal ini.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Pak Rektor terpaksa tunduk. IDT bahkan mengharuskannya tak cuma membuka nilai para siswa, tapi bahkan seluruh lembar jawaban ujian masuk. Perjuangan Sumalee pun menjadi buah bibir dan mengguncang sistem pendidikan Thailand. Orang-orang membicarakan Demonstration School dengan nada minor. Berkembang isu bahwa banyak orang tua dari anak-anak keluarga terpandang--dalam bahasa Thailand disebut dek sen--memasukkan anaknya ke sekolah ini dengan berbagai cara.
Nah, ketika semua dokumen ujian dibuka, terbukti Nathanich, putri Sumalee, memang tidak lulus, karena nilai ujiannya buruk. Sebaliknya, 120 siswa yang berhasil masuk memenuhi syarat karena nilainya cukup. Namun, ada temuan lain, ada indikasi “sumbangan” sejumlah orang tua yang menginginkan anaknya diterima di sekolah tersebut.
Begitupun, persoalan belum selesai. Orang tua murid yang nilai ujian putra-putrinya dibuka ke publik menggugat balik. OIC dan IDT dituding tak wenang memerintahkan Demonstration School membuka hasil ujian ke publik, sebab hasil ujian itu adalah dokumen rahasia/hak pribadi.
“Mungkin mereka malu, sebab ada sebagian di antaranya dek sen,” ujar Chaiwat Nakorn yang hingga kini masih mengingat peristiwa gugatan Sumalee itu. Dari Nakornlah saya mendengar cerita ini pertama kali. Ia pegawai salah satu hotel di Pantai Ao Nang, Krabi. Saat saya bersiap-siap menuju Hong Island, satu di antara sejumlah destinasi wisata yang diminati para pelancong bila ke Thailand, Nakorn bercerita panjang lebar soal Sumalee. Di sela-sela riset, saya menyempatkan diri untuk ikut melancong juga.
Bermodal cerita Nakorn, saya coba cari informasi lebih detail. Dalam banyak dokumen soal keterbukaan informasi publik di Thailand, kisah Sumalee sering jadi referensi. Pantas Nakorn pun masih mengingatnya.
Nakorn tak abai pula soal kemenangan OIC atas para penggugat. Berdasarkan Official Information Act 1997 yang memberikan hak kepada semua warga Thailand untuk melihat, menerima, dan memiliki salinan dokumen publik, Mahkamah Agung memutuskan OIC punya kewenangan memerintahkan Universitas Kasetsart membuka semua lembar jawaban ujian masuk. Gugatan orang tua para dek sen ditolak.
Kisah Sumalee bukan cerita baru. Peristiwa ini terjadi tahun 1998, namun hingga kini masih dikenang orang Thailand, karena ia pionir di bidang ini. Tanpa Sumalee, bisa jadi tak banyak warga Thailand yang sadar bahwa mereka memiliki hak atas berbagai informasi pemerintah.
Lantas, kisah Sumalee mengingatkan saya pada Askhalani, Isra Safril, dan aktivis GeRAK lainnya. Ketika meminta daftar nama anggota DPRA yang ogah mengembalikan dana Tunjangan Komunikasi Intensif (TKI) ke kas negara, mereka menjadi “orang pertama” di Aceh yang meminta informasi (hingga ke tingkat ajudikasi) menggunakan UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP. Begitu juga Koalisi NGO HAM ketika menyoal data korban konflik pada Dinsos Aceh. UU tersebut memberi justifikasi bagi masyarakat untuk meminta dan memperoleh informasi dari setiap institusi negara. Saya beruntung menemukan kisah tentang Sumalee, ibu rumah tangga yang gigih itu.
Anda bagaimana, tidakkah Sumalee menginspirasi bahwa Anda pun berhak atas berbagai informasi pemerintah? Anda boleh bertanya soal rekrutmen CPNS, laporan keuangan PKA 6 yang baru saja usai. Atau malah ingin tahu detail soal manfaat dan budget pembangunan Meuligoe Wali yang megah. Juga rincian dana pengukuhannya kelak yang Rp 2,4 miliar itu. Cari tahu saja, toh Anda memang berhak untuk tahu! 
[email penulis: fairus_mainuri@yahoo.com]

Pattani, Acehnya Thailand

SAYA pernah dengar bahwa Provinsi Pattani di Thailand itu mirip Aceh. Namun, saat itu saya belum sampai pada kesimpulan apa yang membuat Pattani dikatakan mirip Aceh. Tiga hari lalu saya ke Pattani melalui Penang. Dari Penang ke Pattani, saya menumpang bus umum.
Memasuki perbatasan Penang-Thailand, saya lihat banyak polisi di sepanjang jalan. Mereka sedang razia. Mulanya saya kira itu sweeping biasa, pemeriksaan kelengkapan surat-surat kendaraan. Namun, lepas dari sweeping itu, muncul lagi rombongan polisi lainnya. Tak lama kemudian, ada lagi rombongan polisi lain yang sweeping.
Dari balik kaca jendela bus yang saya tumpangi, tampak aparat keamanan berpakaian serbagelap. Bersenjata laras panjang yang siap tembak. Di pinggir jalan, beberapa penumpang kendaraan umum berjongkok. Bus mereka diperiksa dan penumpang disuruh turun.
Entah karena bus yang saya tumpangi semuanya berisi perempuan dan hanya saya--bule asing--dan sang sopir saja yang laki-laki, bus kami dipersilakan jalan terus. Saat itulah saya terbayang masa-masa konflik Aceh-Indonesia (Jakarta).
Pemandangan yang baru saja saya amati tidak beda dengan kondisi Aceh pada periode 1990 sampai 2004. Saat itu, di sepanjang jalan raya di Aceh, baik lintas barat maupun timur, sering terjadi sweeping. Pelakunya aparat keamanan negara dengan senjata lengkap. Sesekali ada pula sweeping dari pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Ingatan akan masa-masa sulit ke situasi konflik Aceh itu terus menemani perjalanan saya. Begitu segar di ingatan, kala itu rakyat biasa bahkan siswa dan mahasiswa sering dirazia. Mereka diperiksa, ditanyai, disuruh push-up, scott jump, bahkan kadang dipukuli. Saya sendiri pernah mengalami hal itu saat berangkat kuliah dari Aceh Selatan ke Banda Aceh.
Tapi kekhawatiran saya terlalu berlebihan. Konflik di selatan Thailand ini tak separah Aceh-Indonesia. Sesampai di Hatyai, pemandangan sweeping polisi dengan pakaian serbahitam tadi hilang. Saya pun lega.
Di Hatyai, saya dijemput oleh Ku-Ares Tawandorloh, Ketua Jurusan Bahasa Melayu, Fakultas Sastra dan Sain Kemasyarakatan, Yala Islamic University. Malam selepas magrib, dengan sedan Ku-Ares, kami menuju Pattani, tempat Yala Islamic berada. Perguruan tinggi Islam ini terdapat di bagian ujung Pattani, perbatasan dengan Provinsi Yala.
Dua jam perjalanan dari Hatyai ke Pattani, lagi-lagi saya temukan pos keamanan. Seperti Aceh masa koflik, pos di sepanjang jalan selatan Thailand ini juga berdekatan. Terkadang, tak sampai hitungan kilometer, kita sudah jumpai pos lainnya. Setiap pos ada bentengnya, dibuat dari pasir dalam karung plastik. Di depan pos, tepatnya di tengah jalan raya, diberi pagar kawat dan kayu-kayu melintang.
Suasana seperti ini tentu saja mencekam bagi setiap pendatang. Namun, tidak demikian bagi penduduk asli. Mereka sudah terbiasa dengan kondisi ini, sama seperti biasanya orang Aceh yang sudah 29 tahun hidup dalam suasana konflik. Orang-orang Thailand selatan ini juga sudah terbiasa dengan suara bom yang meledak tiba-tiba. Mereka sudah hapal bulan-bulan apa saja “musim bom”, seperti orang-orang Thailand Utara yang hapal bulan apa saja bakal terjadi banjir.
Di Thailand Selatan ini, ada tiga provinsi basis konflik: Pattani, Yala, dan Narathiwat. Di provinsi-provinsi ini nomor handphone Indonesia saya tak bisa diaktifkan, meskipun sudah daftar roaming. Setiap orang harus beli kartu Thailand untuk hp-nya dengan syarat fotokopi paspor.
Di Provinsi Yala, pos-pos keamanan merambah hingga ke pasar dan pusat kota. Di perbatasan Pattani-Yala, posnya lebih besar dengan penjagaan 24 jam. Selain kayu dan kawat berduri, jalan di depan pos ini juga dilengkapi polisi tidur. Roda dua diberi jalur paling tepi. Roda empat di jalur tengah. Ada pagar kawat yang membatasi jalur roda dua dan roda empat saat melintas di depan pos tersebut.
Di pasar Kota Yala, pos-pos keamanan juga dengan penjagaan ketat. Pada setiap pos terpasang kamera CCTV yang selalu merekam apa saja. Uniknya di sini, ada bagian yang lokasi parkir kendaraan dibuat di tengah jalan. Kendaraan yang lalu lalang mengambil jalur pinggir jalan. Untuk parkir, sila letakkan kendaraan Anda di tengah jalan.
Hal ini demi menghindari percikan bom dari kendaraan. Kekhawatiran warga, jika ada kendaraan yang diselipkan bom, saat meledak bisa meruntuhkan toko atau melukai orang di dalam toko. Jadi, risikonya terhadap bangunan dan warga diperkecil dengan cara memarkir kendaraan di tengah jalan.

Kendati kehidupan di sana terkesan mencekam, tapi masyarakat setempat masih bebas beraktivitas. Cuma, pemandangan itu akan terkesan seram bagi para pendatang. Oleh karenanya, konflik di Thailand Selatan ini mesti segera diselesaikan. Mungkin, Thailand mesti belajar dari cara Aceh menyudahi konflik. 
[email penulis: hermanrn13@gmail.com]

Rumah Inap bagi Penderita AIDS

TERSEBUTLAH sebuah tempat yang sangat populer dan legendaris di Thailand. Namanya Wat Prabaht Nampu, sebuah kuil yang terletak di Provinsi Lop Buri, sekitar 150 kilometer arah utara Kota Bangkok. Saat ini kuil tersebut menjadi rumah bagi 152 penderita HIV positif. Saya dan teman-teman berkesempatan mengunjungi tempat ini sebagai bagian dari pemenuhan pembelajaran sebuah mata kuliah.
Pendiri tempat ini adalah seorang biarawan Budha bernama Alongkot Dikkapanyo. Tempat ini aslinya sebuah kuil peribadatan umat Budha yang kemudian difungsikan sebagai penampungan penderita AIDS pada tahun 1992 ketika dua pemuda dengan status positif HIV datang meminta bantuan dan tempat tinggal kepada pihak kuil karena mereka  ditolak oleh keluarga dan rumah sakit.
Hanya berawal dari delapan tempat tidur, Wat Prabaht Nampu kini mampu menyediakan 400 tempat tidur untuk menampung para pasien. Sampai saat ini kuil ini telah merawat lebih 10.000 dari 610.000 orang yang terinfeksi HIV di Thailand menurut data  PBB.
Kebanyakan pasien pernah bekerja sebagai pekerja seks komersial atau para pasien yang tertular dari pasangannya. Sebanyak 60 dari 152 pasien yang berada di kuil saat ini dalam kondisi baik dan sehat. Mereka masing-masing ditempatkan di sebuah bungalow kecil dengan fasilitas kamar dan toilet, tidak bersama para pasien dengan infeksi oportunistik lainnya yang ditempatkan di beberapa sal perawatan. Sebanyak 60 pasien tersebut diperbolehkan bekerja di dalam kuil sesuai keahlian masing-masing, seperti menjadi cleaning service bahkan di administrasi perkantoran. Sebagian lainnya diberdayakan dalam kelompok kreatif handycraft. Mereka hidup layaknya orang normal, hanya saja mereka memilih untuk menetap di kuil karena penolakan dari keluarga dan stigma dari masyarakat.
Pasien yang meninggal akan dimasukkan ke lemari pendingin menunggu untuk dijemput keluarganya. Jika tidak dijemput, tubuhnya akan segera dikremasi oleh pihak kuil dan abu dari kremasi disimpan di museum yang dikenal dengan sebutan Life Museum. Museum ini terletak di dalam kompleks kuil dan juga berisi pajangan tubuh-tubuh  penderita AIDS yang mendonasikan tubuh mereka untuk kepentingan studi.
Begitulah, betapa indahnya berbagi dan mampu membuat mereka tersenyum dan tetap merasa “berarti”, meski dalam antrean menuju mesin kremasi, suatu saat nanti. 
[email penulis: freshjune@yahoo.ca]

Jejak Aceh di Narathiwat Thailand

BENTANG alam dan suasana perkampungan antara Provinsi Yala dan Narathiwat mirip sekali dengan suasana di Aceh. Hamparan sawah dan kebun karet terlihat dominan selama perjalanan. Sekolah atau madrasah di tepi jalan dipenuhi anak-anak berseragam sekolah. Yang paling khas adalah anak-anak perempuan berwajah Melayu atau campuran Melayu-Thailand semuanya berjilbab, sangat mirip dengan suasana di Aceh.
Berbicara tentang adanya kaitan antara Aceh dan Narathiwat di kawasan selatan Thailand, rasanya sulit dipercaya kalau di kawasan ini akan ditemui jejak-jejak Aceh karena berbagai alasan. Secara geografis, Aceh dan Thailand dipisahkan oleh Selat Malaka dan berhadapan langsung dengan Provinsi Satun, Trang, Krabi, Phuket, dan Phang Nga, dan tidak berbatasan dengan Narathiwat yang berhadapan dengan Teluk Thailand. Dugaan saya ternyata salah besar, sehari sebelumnya ketika bertemu dengan Wakil Rektor Universitas Fatoni (dulunya disebut Yala Islamic University), beliau mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada tiga negeri Darussalam: Aceh Darussalam, Pattani Darussalam, dan Brunei Darussalam. Sebelum jatuh ke Thailand, Kerajaan Pattani Darussalam menguasai Provinsi Pattani, Yala, dan Narathiwat di bagian Thailand dan sebagian kawasan Kelantan dan Perlis di bagian Malaysia. Sekarang saya sadari, hubungan antara Aceh dan Narathiwat mungkin dimulai dari Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kerajaan Pattani Darussalam dalam berbagai bentuk.
Kali ini saya sempatkan mengunjungi dua pesantren di Narathiwat, salah satunya Madrasah Ahmadiah Islamiah. Kata ‘Ahmadiah’ pada nama pesantren ini tak ada hubungannya dengan aliran Ahmadiah, melainkan diambil dari nama pendirinya yang bernama Ahmad. Masyarakat Islam di selatan Thailand lebih mengenal pesantren yang dipimpin Ustaz Muhammad Lutfi Haji Samin ini dengan sebutan ‘Pondok Sala Anak Ayam’. Pesantren ini menyimpan kitab kuno dalam jumlah cukup besar yang berasal dari Andalusia, Arab, Thailand, dan Indonesia. Sekitar 30% koleksi naskah kuno tersebut berasal dari Aceh dan sekitar 70% koleksinya berasal dari provinsi lainnya di Indonesia.  Di antara koleksi kuno tersebut terdapat Alquran tulisan tangan Syech Nuruddin Ar-Raniry yang ditulis selama lima tahun (1636-1641 Masehi). Terdapat juga beberapa Quran tulisan tangan lainnya dari Aceh di sini.
Selain Alquran, terdapat juga kitab-kitab fikih karangan ulama Aceh zaman dulu, seperti kitab Fiqih Sirat Al-Musatqim karangan Syech Nuruddin Ar-Ranir. Ustaz Muhammad Lutfi Haji Samin, sang pemimpin pesantren, memastikan kepada saya bahwa beliau memiliki sejumlah kitab dari Aceh lainnya yang belum dipajang (masih disimpan) di dalam gudang. Di antara koleksi naskah Aceh lainnya terdapat tiga buku pantun karangan Hamzah Fansyuri. Beliau katakan bahwa pada masa kejayaan Islam Pattani dan Aceh banyak sekali Quran dan kitab-kitab yang ditulis tangan oleh ulama-ulama dari kedua negeri, namun dari segi jumlah lebih banyak ditulis ulama-ulama dari Aceh. Tak heran kalau koleksi dari Aceh cukup signifikan jumlahnya di pesantren ini.
Kondisi sejumlah Alquran dan koleksi naskah kuno lainnya sangat memprihatinkan. Beberapa naskah kuno tersebut ada yang dalam kondisi rusak berat dan ada bagian yang sudah melekat satu sama lain.  Sebagai pesantren yang minim dana, restorasi semua naskah kuno yang mereka miliki adalah sebuah mimpi yang tak mungkin terwujud.  Jangankan untuk merestorasi, mengidentifikasi naskah saja tidak mungkin mereka lakukan karena tidak memiliki keahlian di bidang itu. Oleh karenanya, mereka berusaha mencari bantuan ke berbagai sumber agar naskah yang sangat berharga itu direstorasi. Alhamdulillah, Pemerintah Turki telah membantu untuk merestorasi enam Alquran dan naskah kuno, termasuk satu Alquran dari Aceh.
Pertanyaan besar yang masih mengganjal di kepala saya, bagaimana Alquran dan naskah kuno Aceh itu bisa sampai ke Narathiwat? Apakah para santri dari Narathiwat saat itu datang belajar ke Aceh dan membawa pulang Quran dan naskah kuno dari Aceh? Atau ulama-ulama dari Narathiwat bertemu ulama-ulama Aceh di Mekkah saat mereka belajar di sana dan menerima Alquran dari ulama Aceh lalu membawa pulang ke Narathiwat? Atau apakah para santri dari Aceh pada saat itu belajar ke Narathiwat dan meninggalkan Quran yang mereka bawa dari Aceh di Narathiwat? Masih banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan untuk menjawab bagaimana kejayaan peradaban Islam dari Aceh menyebar sampai ke selatan Thailand. Semua ini harus dilakukan melalui penelitian mendalam dan seyogianya oleh para peneliti dari Aceh, bukan peneliti Barat seperti selama ini.
Oleh karena itu, alangkah bijaksananya jika Pemerintah Aceh memberikan beasiswa kepada mahasiswa Aceh yang ingin melanjutkan S2-S3 dan tertarik meneliti kejayaaan Aceh masa lalu. Dengan demikian, akan lahir ahli mengenai Aceh dari tanah Aceh sendiri. Merekalah yang akan menggantikan posisi James T Siegel, Anthony Reid, Mark Durie, dan Lance Castle, di kancah internasional. Insya Allah. [email penulis: yyunardi@yahoo.com]